Minggu, 07 Desember 2014
MUSIM KEMARAU VS MUSIM HUJAN
Saat itu cuaca di kotaku sangat cerah.Tetapi, meskipun cerah ada
ganjalan di hatiku, dan ada pertanyaan : Kenapa tidak turun hujan aja
sih? Berikut dengan serentetan keluhan, yang kenapa kok sepertinya
mengacu kepada pemenuhan diriku saja ?
Bajuku pasti akan memiliki bau yang tidak sedap, begitupun mukaku akan kusam karena udara yang sumpek ini. Bagaimana nanti aku mau bertemu dengan handai taulan? Malulah aku… Sekejap muncul ide dan upaya untuk berusaha menjauhkan badan dan bajuku dari bau tidak sedap. Pakai parfum, pakai mobil agar tidak keringatan, minta pendapat orang lain mengenai penampilan & "konfirmasi" bau tidak sedap di tubuhku, dll, yang semuanya pokoknya mengacu kepada saya… saya….dan saya…..
Belum lagi karena udara cerah ini, pastilah akan sering dahaga tenggorokanku.
Persiapan membawa air putih agar jika di jalan nanti saya ngelak, begitu kata Orang Jawa bilang, kiranya boleh juga ya, tapi kok air putih ?
Hhmm… rasanya kok belum afdol ya kalau tidak yang dingin2 plus soda karbonasi ? Pastilah lebih sedap ketimbang hanya sebotol air putih, yang sudah sangat mudah ditemui dan rasanya biasa - biasa saja. Saya mau yang beda dan lebih menyegarkan.
Kan kalau yang berkarbornasi bisa nambah gaul juga ?
Kira - kira seperti itulah bekalku ketika kakiku akan meninggalkan rumahku…
Setelah di jalan, hhmm.. karena udara yang sangat panas ini, yang biasa AC kendaraan ini dingin, sekonyong - konyong menjadi tidak berasa dinginnya.
Masih dingin, tetapi kualitasnya jauh berkurang. Aku bergumam, " kenapa pula ini ? Gara - gara udara pastinya, sekarang ACku menjadi seperti ini". Sungguh tidak bersahabat cuaca hari ini !!
Mengeluh sepanjang hari.
Dan karena itulah, maka : Lupa untuk menyapa tetangga depan, kiri dan kanan yang padahal selalu menyapu halamannya setiap pagi, yang juga sebenarnya menunggu teguran dan sapaan.
Lupa akan begitu indahnya senyuman sang istri dan buah hati yang disertai lambaian tangan dan seruan "Hati - Hati ya di jalan… "
Lupa juga kalau hidangan sedap yang telah aku santap di meja makan adalah hasil karya racikan bumbu - bumbu istriku.
Yaaa, lupa untuk menikmati segala KEINDAHAN di pagi hari itu.
Seiring berjalannya waktu…
Musim hujanpun tiba.
Gemuruh petir disertai kilat menyambar - nyambar.
Sang mentari kian tersipu malu terhalang awan hitam cumulonimbus.
Nyanyian burung pagi, terhalau oleh derasnya hujan yang jatuh di seng rumahku.
Pakaian yang siap untuk disetrika semakin hari semakin sedikit antriannya, tetapi justru menumpuk di jemuranku.
Menyertai ini semua, udara dinginpun menyelimuti tubuhku.
Menggigil sehabis mandi pagi, itulah yang aku rasakan.
Teh hangat manis semenjak musim yang baru datang ini, semakin cocok kiranya dihidangkan setiap pagi.
Semua ini menyusul kekuatiran akan bagaimana nanti di jalan ? apalagi 2 - 3 hari hujan tidak kunjung selesai.
Pastilah macet dimana - mana, stress melanda banyak orang, belum lagi kecemasan kalau - kalau kendaraan trouble di tengah jalan.
Sambil di jalan, otomatis teringat akan jemuranku yang pun belum kering juga.
Serba salah… ya serba salah…..
Mengeluh… ya mengeluh…..
Cerah salah… Hujanpun salah…
Lalu ?????
Apakah memang ini yang telah bersenyawa di banyak orang, terlebih sang penghuni metropolitan?
Sungguhlah berbahagia wahai mereka yang mampu bersyukur di tengah cuaca cerah maupun hujan ?
Yang mampu menikmati betapa indahnya segala yang ada yang telah disajikan olehNya
Sinar matahari yang menusuk,sangatlah baik bagi pertumbuhan tulang, apalagi si bayi yang sedang butuh - butuhnya asupan Vitamin D.
Udara panas yang senantiasa mengeringkan jemuran setiap hari, sehingga bisa ganti baju setiap hari bahkan 2 - 3 kali sehari.
Terik matahari yang terserap oleh klorofil - klorofil untuk wahai para tanaman untuk dapat bertumbuh dan beregenerasi.
Cuaca yang cerah yang mengantarkan wahai anak - anak untuk dapat bermain layangan sembari berteriak dan cemberut karena perkara menang dan kalah dalam beradu.
Dan…beragam aktivitas lain yang tentunya SUNGGUH MENYENANGKAN.
Memang sudah aturan alam, jika :
Ada panas, ada dingin.
Ada tinggi, ada pendek.
Ada baik, ada jahat
Ada hitam, ada putih
Ada terang, ada gelap.
Dst...
Maka begitulah hujanpun mengguyur setelah terik Sang Mentari beranjangsana setiap pagi, siang, sore di bulan - bulan musim kemarau.
Dingin menyambut, kabutpun hadir di sela - sela rintik - rintik hujan pagi hari.
Sang Jago agak malu meneriakkan yel - yel "kokopetok"nya, tetapi tetaplah ia konsisten membangunkan setiap orang untuk mau bangun pagi.
Di kala tidur malam, AC tidak perlu dinyalakan karena sejuknya udara.
Bahkan di kala banjirpun,
Setiap orang yang sebelumnya saling tidak tegur sapa dan begitu kental "sayaisme"nya, saat inilah setiap orang saling peduli, saling Bantu, gotong royong, bertoleransi, berperasaan sejajar dengan yang lain, dst…
Di setiap waktu dan tempat adalah suatu KEINDAHAN
Jika mampu BERSYUKUR atas segala yang telah diberikanNya
Dan senantiasa berpikir POSITIF atas apa yang terjadi, baik yang dalam kendali ataupun di luar kendali.
Kemarau ataupun Hujan ???
Semua SAMA.
Tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk.
Semua adalah semata - mata berdasar atas sikap dan cara pandang kita sebagai INSAN
Masih MAU BERUBAH dan BERSYUKURKAH kita ?
Bajuku pasti akan memiliki bau yang tidak sedap, begitupun mukaku akan kusam karena udara yang sumpek ini. Bagaimana nanti aku mau bertemu dengan handai taulan? Malulah aku… Sekejap muncul ide dan upaya untuk berusaha menjauhkan badan dan bajuku dari bau tidak sedap. Pakai parfum, pakai mobil agar tidak keringatan, minta pendapat orang lain mengenai penampilan & "konfirmasi" bau tidak sedap di tubuhku, dll, yang semuanya pokoknya mengacu kepada saya… saya….dan saya…..
Belum lagi karena udara cerah ini, pastilah akan sering dahaga tenggorokanku.
Persiapan membawa air putih agar jika di jalan nanti saya ngelak, begitu kata Orang Jawa bilang, kiranya boleh juga ya, tapi kok air putih ?
Hhmm… rasanya kok belum afdol ya kalau tidak yang dingin2 plus soda karbonasi ? Pastilah lebih sedap ketimbang hanya sebotol air putih, yang sudah sangat mudah ditemui dan rasanya biasa - biasa saja. Saya mau yang beda dan lebih menyegarkan.
Kan kalau yang berkarbornasi bisa nambah gaul juga ?
Kira - kira seperti itulah bekalku ketika kakiku akan meninggalkan rumahku…
Setelah di jalan, hhmm.. karena udara yang sangat panas ini, yang biasa AC kendaraan ini dingin, sekonyong - konyong menjadi tidak berasa dinginnya.
Masih dingin, tetapi kualitasnya jauh berkurang. Aku bergumam, " kenapa pula ini ? Gara - gara udara pastinya, sekarang ACku menjadi seperti ini". Sungguh tidak bersahabat cuaca hari ini !!
Mengeluh sepanjang hari.
Dan karena itulah, maka : Lupa untuk menyapa tetangga depan, kiri dan kanan yang padahal selalu menyapu halamannya setiap pagi, yang juga sebenarnya menunggu teguran dan sapaan.
Lupa akan begitu indahnya senyuman sang istri dan buah hati yang disertai lambaian tangan dan seruan "Hati - Hati ya di jalan… "
Lupa juga kalau hidangan sedap yang telah aku santap di meja makan adalah hasil karya racikan bumbu - bumbu istriku.
Yaaa, lupa untuk menikmati segala KEINDAHAN di pagi hari itu.
Seiring berjalannya waktu…
Musim hujanpun tiba.
Gemuruh petir disertai kilat menyambar - nyambar.
Sang mentari kian tersipu malu terhalang awan hitam cumulonimbus.
Nyanyian burung pagi, terhalau oleh derasnya hujan yang jatuh di seng rumahku.
Pakaian yang siap untuk disetrika semakin hari semakin sedikit antriannya, tetapi justru menumpuk di jemuranku.
Menyertai ini semua, udara dinginpun menyelimuti tubuhku.
Menggigil sehabis mandi pagi, itulah yang aku rasakan.
Teh hangat manis semenjak musim yang baru datang ini, semakin cocok kiranya dihidangkan setiap pagi.
Semua ini menyusul kekuatiran akan bagaimana nanti di jalan ? apalagi 2 - 3 hari hujan tidak kunjung selesai.
Pastilah macet dimana - mana, stress melanda banyak orang, belum lagi kecemasan kalau - kalau kendaraan trouble di tengah jalan.
Sambil di jalan, otomatis teringat akan jemuranku yang pun belum kering juga.
Serba salah… ya serba salah…..
Mengeluh… ya mengeluh…..
Cerah salah… Hujanpun salah…
Lalu ?????
Apakah memang ini yang telah bersenyawa di banyak orang, terlebih sang penghuni metropolitan?
Sungguhlah berbahagia wahai mereka yang mampu bersyukur di tengah cuaca cerah maupun hujan ?
Yang mampu menikmati betapa indahnya segala yang ada yang telah disajikan olehNya
Sinar matahari yang menusuk,sangatlah baik bagi pertumbuhan tulang, apalagi si bayi yang sedang butuh - butuhnya asupan Vitamin D.
Udara panas yang senantiasa mengeringkan jemuran setiap hari, sehingga bisa ganti baju setiap hari bahkan 2 - 3 kali sehari.
Terik matahari yang terserap oleh klorofil - klorofil untuk wahai para tanaman untuk dapat bertumbuh dan beregenerasi.
Cuaca yang cerah yang mengantarkan wahai anak - anak untuk dapat bermain layangan sembari berteriak dan cemberut karena perkara menang dan kalah dalam beradu.
Dan…beragam aktivitas lain yang tentunya SUNGGUH MENYENANGKAN.
Memang sudah aturan alam, jika :
Ada panas, ada dingin.
Ada tinggi, ada pendek.
Ada baik, ada jahat
Ada hitam, ada putih
Ada terang, ada gelap.
Dst...
Maka begitulah hujanpun mengguyur setelah terik Sang Mentari beranjangsana setiap pagi, siang, sore di bulan - bulan musim kemarau.
Dingin menyambut, kabutpun hadir di sela - sela rintik - rintik hujan pagi hari.
Sang Jago agak malu meneriakkan yel - yel "kokopetok"nya, tetapi tetaplah ia konsisten membangunkan setiap orang untuk mau bangun pagi.
Di kala tidur malam, AC tidak perlu dinyalakan karena sejuknya udara.
Bahkan di kala banjirpun,
Setiap orang yang sebelumnya saling tidak tegur sapa dan begitu kental "sayaisme"nya, saat inilah setiap orang saling peduli, saling Bantu, gotong royong, bertoleransi, berperasaan sejajar dengan yang lain, dst…
Di setiap waktu dan tempat adalah suatu KEINDAHAN
Jika mampu BERSYUKUR atas segala yang telah diberikanNya
Dan senantiasa berpikir POSITIF atas apa yang terjadi, baik yang dalam kendali ataupun di luar kendali.
Kemarau ataupun Hujan ???
Semua SAMA.
Tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk.
Semua adalah semata - mata berdasar atas sikap dan cara pandang kita sebagai INSAN
Masih MAU BERUBAH dan BERSYUKURKAH kita ?
Minggu, 09 November 2014
Cedas dan bijak berkata kata
Terkadang kita
sering melihat teman facebook atau twitter kita membuat status berisi
umpatan dan makian menggunakan kata-kata yang kotor dan kurang pantas,
bahkan terkadang nama orang yang dia umpat pun dimasukan ke dalam
statusnya. Tahukah kalian kalau hal seperti itu sama saja menjelekan
serta mencemarkan diri kita sendiri dan tentu saja bisa berakibat tidak
hanya di dunia maya tapi juga di dunia nyata, beberapa penelitian
membuktikan bahwa saat ini jika kita ingin melamar pekerjaan di suatu
perusahaan tidak hanya dinilai kepribadiannya secara langsung dengan
bertatap muka dan juga psikotes tetapi dilihat bagaimana karakter kita
di dunia maya apalagi di jejaring sosial. Bukan itu saja, bisa saja bila
orang yang kita jelek-jelekan itu tidak terima dengan kata-kata yang
kita lontarkan di jejaring sosial dan melaporkan kita ke pihak yang
berwajib sebagai sebuah tindakan pencemaran nama baik, kita bisa
merasakan dinginnya hotel prodeo hanya karena tidak bisa mengendalikan
kata-kata kita tersebut.
Pentingnya
melatih kecerdasan emosional (EQ) kita agar kita mampu menjaga sikap dan
tak mudah menuliskan kata-kata yang menghina orang lain di jejaring
sosial, karena sesuai dengan fungsinya jejaring sosial itu dibuat untuk
menghubungkan kita dengan teman-teman kita untuk saling tukar informasi,
kabar, dan hal positif lainnya bukan untuk menjelek-jelekan pihak lain.
Memang tiap orang itu berbeda-beda karakternya tapi tak ada salahnya
kita untuk saling mengingatkan bukan? ada orang yang kadang diingatkan
tetapi malah marah-marah dan memaki balik ke kita, tapi ada juga yang
menerima masukan kita yang memang tujuannya agar dia jadi pribadi yang
lebih baik lagi.
Jangan pernah
menganggap jejaring sosial dan dunia maya adalah diary pribadi kita yang
bisa kita isi seenaknya, karena hal-hal yang kita tulis orang lain juga
akan tahu, apalagi membahas hal-hal yang sifatnya pribadi. Sebaiknya
kita bisa memilah-milah mana hal yang bisa kita share di jejaring sosial
dan mana hal yang benar-benar hanya kita yang boleh tahu, karena
hal-hal pribadi tersebut akan menyangkut citra diri kita di mata orang
lain. Cerdas dan bijaklah menggunakan jejaring sosial mulai dari
sekarang, karena dunia maya bukan milik kita seorang, jangan biarkan
orang lain jadi unrespect terhadap kita gara-gara melihat kata-kata
negatif kita di dunia maya walaupun kenyataan sebenarnya kita tak
seperti itu.
JOURNEY TO TRANS STUDIO BANDUNG
Saya akan melanjutkan cerita tentang perjalan ke Trans Studio, yang sebelumnya saya tulis disini.
Setelah saya sampai disana kira-kira pukul 13.00 wib, kami (saya dan
teman-teman saya) langsung berkeliling menyusuri setiap sudut Trans
Studio bandung sambil berdiskusi wahana apa yang akan kami masuki
terlebih dahulu. Setelah melewati pedebatan panjang, mengalahkan
debatnya para wakil rakyat di DPR sana *alah* kami akhirnya memutuskan
untuk memasuki wahana dunia lain terlebih dahulu. Para wanita (rika dan
dian) sudah ketakutan duluan sebelum masuk kedalam wahana, saya
sebenarnya agak takut juga tapi tetap pasang muka kalem. Sebelum kita
bisa menaiki wahana tersebut terlebih dahulu kita akan melewati
lorong-lorong yang gelap dan sunyi serta melewati beberapa
lukisan-lukisan serta kita akan menaiki tangga yang berjalan dengan
sendirinya (baca=eskalator), akhirnya kami sampai juga di tempat kita
menaiki wahana tersebut, bentuknya seperti kereta yang maksimal di
duduki 4 orang. Gawat pikir saya, karena kami berenam terpaksa saya dan
teman saya (nuzul) harus menaiki kereta yang terpisah dengan empat teman
saya yang lain untungnya ada 2 orang bule yang duduk di belakang kami
jadi kami tidak cuma berdua. Saat didalam sana hampir sama bentuknya
seperti rumah hantu yang ada di taman safari cisarua tapi disini lebih
banyak memakai gambar-gambar proyeksi, ada pocong, genderuwo suster
ngesot, dan ada bagian yang bikin saya parno *awas jangan salah baca*
(was-was) yaitu saat kereta sudah mau sampai ke tempat saya naik tadi,
ada replika mobil ambulance yang sudah usang dan tiba-tiba saja ada
keranda mayat yang keluar dari dalam mobil tersebut dan jatuh ke bawah,
sontak saja saya kaget mendengar bunyinya. Tetapi ternyata bagian paling
menakutkannya ada di bagian akhir saat saya berfikir kalau wahana itu
sudah mau selesai tiba-tiba saja sreeetttt!!! ada sebuah bayangan yang
langsung berdiri di samping saya sangat dekat jaraknya sampai-sampai
saya teriak dibuatnya, pas saya tengok ke belakang ternyata itu salah
satu crew dari dunia lain yang menyamar jadi sosok kuntilanak, untung
saya tak jantungan dibuatnya.
Setelah
keluar dari wahana dunia lain kami berjalan ke kawasan lost city dan
menaiki wahana skypirates zapelin yaitu sebuah gondola berbentuk pesawat
zapelin bajak laut yang muat untuk 8 orang, wahana ini mengelilingi
kawasan Trans studio dari ketinggian sehingga kita bisa menikmati
pemandangan Trans studi sekaligus bisa melihat wahana yang lainnya.
Sekeluarnya kami dari wahana skypirates zapelin, saya dan cesar langsung
menuju ke wahana kong climb yaitu wahana dimana kita akan melakukan
olahraga panjat tebing, kita akan memanjat tebing buatan setinggi kurang
lebih 8 meter dan diharuskan memegang sebuah lampu warna merah di ujung
atas tebing tersebut. Tak perlu khawatir karena kita akan dipakaikan
alat pengaman terlebih dahulu sebelum memanjat tebing buatan tersebut,
walau saya lebih gendut dari cesar tapi saya berhasil memanjat sampai
ke ujung tebing tersebut dan memegang lampu berwarna merah tersebut, si
cesar hanya mampu memanjat tebing itu sampai setengahnya saja (mungkin
faktor usia ha ha ha...), oh iya teman saya yang lainnya tidak ikut
memanjat hanya melihat kami dari kejauhan.
Sesi
memanjat selesai, kami pun menuju wahana berikutnya yaitu dragon
riders, kata cesar (lagi-lagi dia) wahana ini pasti untuk anak kecil,
memang jika kita lihat dari jauh wahana ini hanya bergerak memutar
sambil naik turun seperti jungkat-jungkit. Ternyata salah, walaupun
terlihat hanya seperti jungkat-jungkit kenyataannya ketika kami naik
wahana tersebut andrenalin kami bertambah karena gerakan naik turunnya
itu sangat kencang dan membuat kami berteriak antara kegirangan
bercampur takut, alhasil muka saya dan nuzul sangat absurd bentuknya
saat difoto oleh crew Trans Studio. Selesai dari wahana dragon riders
kami langsung lanjut masuk ke wahana negeri raksasa, kalo wahana yang
satu ini hampir sama dengan hysteria yang ada di dufan tapi ini lebih
pendek dan lebih banyak naik turunnya , ya sekitar 7-8 kali kita akan
dibawa naik dan turun serta tentu saja teriakan-teriakan kami yang tak
terbendung lagi, apalagi dian dan cesar yang sudah gugup sedari awal
kita mengantri tadi.

Kami
beristirahat sebentar untuk memulihkan semangat kami dalam berkeliling
dan mencoba semua wahana yang ada, tentunya yang diperuntukan bagi
seusia kami. Karena terdapat beberapa wahana yang hanya bisa dimasuki
oleh anak-anak yaitu pulau liliput dan captain blackheart pirate ship.
Kami pun melanjutkan dengan memasuki wahana transcar racing yaitu sebuah
wahana mobil balap yang akan melintasi sirkuit yang ada, tapi yang
mengasikan dari wahana ini ialah kita bisa menggas dan mengerem mobil
tersebut serta dapat memutar setir juga roda mobil tersebut seperti
mobil betulan, tentu saja mobil tetap melaju dijalurnya.
Tulisan ini baru 2/3 dari pengalaman saya saat berkunjung ke Trans Studio Bandung, jangan lupa untuk membaca artikel saya Journey to Trans Studio (part 3) sekaligus bagian akhir dari kunjungan saya kesana. Jangan sampai ketinggalan ceritanya dan jangan lupa untuk memfollow blog ini. Terima Kasih :)
Setelah
keluar dari wahana dunia lain kami berjalan ke kawasan lost city dan
menaiki wahana skypirates zapelin yaitu sebuah gondola berbentuk pesawat
zapelin bajak laut yang muat untuk 8 orang, wahana ini mengelilingi
kawasan Trans studio dari ketinggian sehingga kita bisa menikmati
pemandangan Trans studi sekaligus bisa melihat wahana yang lainnya.
Sekeluarnya kami dari wahana skypirates zapelin, saya dan cesar langsung
menuju ke wahana kong climb yaitu wahana dimana kita akan melakukan
olahraga panjat tebing, kita akan memanjat tebing buatan setinggi kurang
lebih 8 meter dan diharuskan memegang sebuah lampu warna merah di ujung
atas tebing tersebut. Tak perlu khawatir karena kita akan dipakaikan
alat pengaman terlebih dahulu sebelum memanjat tebing buatan tersebut,
walau saya lebih gendut dari cesar tapi saya berhasil memanjat sampai
ke ujung tebing tersebut dan memegang lampu berwarna merah tersebut, si
cesar hanya mampu memanjat tebing itu sampai setengahnya saja (mungkin
faktor usia ha ha ha...), oh iya teman saya yang lainnya tidak ikut
memanjat hanya melihat kami dari kejauhan.
Sesi
memanjat selesai, kami pun menuju wahana berikutnya yaitu dragon
riders, kata cesar (lagi-lagi dia) wahana ini pasti untuk anak kecil,
memang jika kita lihat dari jauh wahana ini hanya bergerak memutar
sambil naik turun seperti jungkat-jungkit. Ternyata salah, walaupun
terlihat hanya seperti jungkat-jungkit kenyataannya ketika kami naik
wahana tersebut andrenalin kami bertambah karena gerakan naik turunnya
itu sangat kencang dan membuat kami berteriak antara kegirangan
bercampur takut, alhasil muka saya dan nuzul sangat absurd bentuknya
saat difoto oleh crew Trans Studio. Selesai dari wahana dragon riders
kami langsung lanjut masuk ke wahana negeri raksasa, kalo wahana yang
satu ini hampir sama dengan hysteria yang ada di dufan tapi ini lebih
pendek dan lebih banyak naik turunnya , ya sekitar 7-8 kali kita akan
dibawa naik dan turun serta tentu saja teriakan-teriakan kami yang tak
terbendung lagi, apalagi dian dan cesar yang sudah gugup sedari awal
kita mengantri tadi.
Kami
beristirahat sebentar untuk memulihkan semangat kami dalam berkeliling
dan mencoba semua wahana yang ada, tentunya yang diperuntukan bagi
seusia kami. Karena terdapat beberapa wahana yang hanya bisa dimasuki
oleh anak-anak yaitu pulau liliput dan captain blackheart pirate ship.
Kami pun melanjutkan dengan memasuki wahana transcar racing yaitu sebuah
wahana mobil balap yang akan melintasi sirkuit yang ada, tapi yang
mengasikan dari wahana ini ialah kita bisa menggas dan mengerem mobil
tersebut serta dapat memutar setir juga roda mobil tersebut seperti
mobil betulan, tentu saja mobil tetap melaju dijalurnya.Tulisan ini baru 2/3 dari pengalaman saya saat berkunjung ke Trans Studio Bandung, jangan lupa untuk membaca artikel saya Journey to Trans Studio (part 3) sekaligus bagian akhir dari kunjungan saya kesana. Jangan sampai ketinggalan ceritanya dan jangan lupa untuk memfollow blog ini. Terima Kasih :)
JADI DIRI SENDIRI, SIAPA TAKUT
Setiap orang
pasti pernah merasa iri dengan kehidupan orang lain, entah orang lain
itu lebih cantik atau ganteng, lebih kaya, lebih bebas, lebih gaya dan
banyak hal lainnya yang terkadang kita irikan dari orang lain. Tapi
apakah kita tahu bahwa orang yang kita irikan itu sebenarnya juga iri
kepada kita, pada kesederhanaan sikap kita, kebebasan kita berekspresi,
kebebasan kita bergaya apa adanya. Kita semua pasti pernah mengalami hal
tersebut entah saya, anda, kalian atau bahkan mereka, kita merasa
keadaan tidak berpihak kepada kita dan lebih memihak kepada orang lain.
Sebenarnya
perasaan-perasaan yang timbul itu hanya perasaan negatif, perasaan kita
yang tidak pernah puas dengan keadaan yang kita jalani sekarang ini,
perasaan kita yang tak pernah bersyukur terhadap setiap rizeki dan
kebaikan yang kita dapatkan dari Allah setiap waktunya, perasaan kita
yang tak pernah merasa bahwa diri kita berharga dan berarti bagi orang
lain.
Jika kita bisa
melihat setiap kelebihan dan kekurangan yang kita miliki dari berbagai
sudut pandang bukan tidak mungkin kita bisa lebih hebat dari orang yang
kita irikan, rasa iri hanya dorongan dari setan yang membuat kita saling
membenci dengan sesama dan membuat kita kurang bersyukur kepada sang
pencipta. Kita diciptakan kedunia ini dengan keadaan yang paling
sempurna, walaupun secara fisik tak semua orang sempurna tapi kita
diciptakan dengan perasaan hati yang sempurna untuk bisa saling
mengasihi dan menyayangi.
Jadilah diri
sendiri, itu kuncinya. Jika kita bisa menjadi diri sendiri perasaan iri
itu tak akan bisa mempengaruhi kita, biarpun orang itu lebih cantik,
tampan, kaya, gaya dari kita sekalipun. Jadi diri sendiri membuat kita
menghargai setiap pemberian yang Allah berikan, fisik yang sempurna
sudah merupakan suatu keberkahan yang luar biasa, bila fisik kita tak
sempurna pun Allah masih memberi kita hati yang sempurna yang bisa
mengasihi dan menyayangi setiap orang disekitar kita. Bila kita
menghargai diri sendiri orang lain pun akan menghargai diri kita juga. Jadi diri sendiri, siapa takut.
SIKLUS KEHIDUPAN
Idul
Adha ke-19 saya di tahun ini bisa dibilang cukup berbeda, bukan ritual,
lingkungan, atau nuansanya tapi kelengkapannya. Ya kelengkapan, tahun
ini bahkan hingga tahun-tahun kedepan kelengkapan itu tak akan pernah
menjadi lengkap seutuhnya. Karena satu hari lalu nenek saya
menghembuskan nafas terakhirnya akibat usia yang tak lagi bisa
dikompromikan. Tahun berikutnya setelah ini semua rutinitas mungkin akan
berubah, tak ada yang menyambut kami lagi ketika tiba di kampung
halaman, tidak ada yang bisa kami ajak latihan berbicara bahasa jawa
lagi, mungkin rutinitas pulang kampung sendiri nantinya bukan menjadi
sebuah prioritas lagi. Yak semua berubah, satu hal yang tak berubah
adalah sebuah perubahan itu sendiri.
Sebuah
lagu "Tak ada yang abadi - Peterpan" mungkin bisa menggambarkan
perubahan itu semua. "Lahir - anak kecil - remaja - dewasa - tua - tutup
usia" sebuah siklus yang telah, sedang, akan dialami oleh setiap
manusia di dunia ini. Roda kehidupan akan terus berputar tanpa henti,
dengan alasan apapun, tinggal bagaimana kita mempersiapkan itu semua.
Kesadaran
diri harus datang seiring berjalannya waktu, kita akan semakin tumbuh
dewasa dan akan mengambil peran yang dahulu dilakukan oleh orang tua
kita. Mempersiapkan diri berarti juga mempersiapkan metal kita untuk
memikul semua tanggung jawab itu. Tak lagi mengandalkan orang membantu
hidup kita, namun nantinya kita yang akan menjadi andalan generasi
setalah kita. Siklus kehidupan ini akan terus berputar tanpa batas,
semakin lama kita akan menua kemudian akan meninggalkan dunia ini, hanya
yang siap dan yang menyadarinya yang dapat menghadapi perubahan ini.
Selamat tinggal nek, semoga engkau tenang di alam sana di sisi Allah
swt. amiinnn.
Selasa, 04 November 2014
SECANGKIR KETULUSAN
Ini kisah secangkir kopi
Tak banyak sesuatu hal yang
mengagumkan
Jika kau hanya memperhatikan
bentuknya
Layaknya, cangkir mungil, kuping
cangkir yang melengkung
Dengan putih gading yang membalut
dirinya
Dan warna hitam si kopi yang memenuhi
tubuhnya
Mengagumkan? Mungkin biasa saja
Si cangkir pun juga tidak ingin
menceritakan bentuknya
Kepada dia
Si cangkir berkisah…
Aku harap, dia pun tahu
Meski aku ternasib sebagai sebuah
cangkir mungil
Untaian kebahagiaan pernah terpenuhi
dalam diriku
Dari kopi yang tertuang hangat di
tubuh ini
Aku selalu mengetahui
Wanita itu memiliki ketulusan pada si
dia
Sederhana, kataku
Tapi sangat mengagumkan
Aku bisa merasakan keihklasan dalam
cinta yang disampaikannya
Lewat diriku dan si hitam kopi
Bertahun wanita itu menyeduhkan kopi
untuk si dia
Lewat tubuhku
Sesungguhnya, jika aku bisa berucap
Ingin kukatakan pada si dia
“Tak pantas jika kau menaruh luka untuk wanita ini. Aku yakin, dia yang
terkasih untukmu. Jagalah hati tulusnya.”
Sayang, aku tak bisa
Tak pernah bisa
Ternasib sebagai secangkir kopi
Ingin rasanya aku berteriak
Saat si dia menerbangkanku dan segala
isi si hitam kopi
Dengan ucapannya
Membuang dengan sia-sia
Apa yang kusebut ketulusan seorang
wanita
Ternasib sebagai secangkir kopi
Ingin aku menemani wanita itu
Menaruh semua kesedihannya dalam
tubuhku
Menaruh semua buliran air matanya
dalam tubuhku
Tapi aku hanya ternasib sebagai
secangkir kopi
Hanya bisa menatap tangis mendalam
Lewat kedua mata wanita itu
Hanya bisa menemani dalam diamku tak
bergerak
Mendengar batinnya berkecamuk
Sayang, aku ternasib sebagai
secangkir kopi
Tak bergerak.
Dalam pagi, siang, dan senjanya
Dan malamnya di kala wanita itu
merindu
Satu yang ingin aku paling kisahkan
pada dia
Aku memang ternasib sebagai secangkir
kopi
Namun, aku bahagia terus menemani
wanita itu
Yang tulus meski kutau
Hatinya telah teronggok pilu
Inilah kisahku yang ternasib sebagai
secangkir kopi
Untuknya, si hati malaikat
UNTUK CERITA YANG AKAN DATANG
Untuk cerita yang akan datang,
Ketika hari ini ku pijakkan langkah-langkahku
Pada jalan kehidupan
yang kerapkali bercabang
Menuntun diri sendiri
Berbekal harap bimbingan
dari Pemilik Semesta
Dengan matahari dan bulan
Yang sudah setia bergerak dalam waktu atas kuasa-Nya
‘tuk menemani langkahku
yang sesekali gontai menapaki satu-satu kerikil kehidupan
Berpeluh semangat meraih apa-apa yang kuimpikan
Berpeluh semangat meraih apa-apa yang kuimpikan
dalam doa dalam sujud pada Sang Pencipta
Untuk cerita yang akan datang,
Ketika hari ini ku pijakkan langkah-langkahku
Pada jalan kehidupan
yang kerapkali bercabang
Hanya ku selalu berucap syukur
Pada Yang Maha Besar
Yang lebih dekat dari hati ini
Telah mengajariku bagaimana cara menapaki kerikil kesedihan
Telah mengajariku tetap menunduk ketika berada di puncak kebahagiaan
Untuk cerita yang akan datang,
Inilah hidupku
Inilah aku
Selasa, 07 Oktober 2014
CINTA MONYET
Yap,
dipostingan blog saya kali ini mungkin tema yang bakal saya tulis
sedikit berbeda dari postingan lainnya. Kenapa? Karena kali ini saya
bakal mengajak pembaca untuk kembali mengingat tentang sesuatu yang
mungkin bisa jadi sebuah memori yang bikin kita ketawa ngakak kalo inget
tentang hal ini. CINTA MONYET. Itu dia yang bakal jadi tema postingan
saya kali ini :D Sebelum kita nyengir-nyengir bareng lewat tulisan saya
ini, mending pembaca sambil ngemil gitu biar lebih asik, ditungguuu
cepetan ambil cemilannya! :D
Oke sudah siap? Kita mulai yah! :D
5. Pas kita SMA kelas 2 rentan usia 16-17 tahun. Di rentan usia ini, kita cenderung mulai ngeliat lawan jenis yang kita jadikan
pacar ga hanya dari fisik, tapi juga dari hati.
Tapiiii...kekurangannya, kalo di awal ngeliatnya baik-baik terus,
ujungnya ngeliat yang menyakitkan hati -ceritanya- malah mungkin jadi
musuh atau anti liat muka itu orang lagi. Betuul?
Apapun cinta yang pernah kita rasain
kemarin-kemarin kalau masih suka ngambek-ngambekan, takut keilangan,
marah kalau ga diapelin...ya itu masih cinta monyet. Cinta yang belum
jelas.Dan, untuk mendapatkan cinta manusia itu sesungguhnya Allah SWT
sudah mencatatnya. Si ini sama si anu, si ono sama si itu, si apa sama
si kenapa, dll. Jadi, kalau sekarang kita lagi pacaran sama seseorang
boleeeh kita bilang 'ih cinta deh sama si ini' silakan. Tapi, harus
diinget, jangan terlalu dibawa serius. Cinta anak muda biasanya ujungnya
ga serius. Santai aja kaya di pantai. Sekolah dulu yang bener, cari
uang, berusaha jadi pribadi yang lebih dewasa. Insya Allah, jika kita
udah ngelewati fase-fase kehidupan ini, cinta itu bakal dateng kok. Dan,
di dunia ini cinta sejati hanya untuk Allah bukan manusia. Karena,
cinta manusia itu pasti bakal ada ketemu sama kata berpisah setelah
bertemu dan bersama. Oke?
Oke sudah siap? Kita mulai yah! :D
Saya yakin banget pembaca yang lagi baca
post saya tentang cinta monyet ini dulunya pas masih remaja pernah
ngalamin hal ini. Ya kan? Hayoo ngaku...Yaaa cinta monyet. Kenapa bisa
dinamakan CINTA MONYET. Padahal yang ngelakuin cinta macam ini kan
manusia bukan monyet, ya kan?Saya juga kurang tau kenapa hal ini
dinamakan cinta monyet. Yang saya bisa lihat dari kenyataan yang udah
sering terjadi di sekitar kita, cinta monyet itu biasanya nempel, lekat,
erat, di kehidupan remaja yang tentunya masih dalam fase usia 12-18
tahun. Kenapa lekatnya dengan rentan usia segitu aja? Nih yah, kita coba
inget kembali deh pas kita pernah ngalamin hal yang disebut dengan
cinta monyet ini...Check it out:
1. Pas
kita SMP kelas 1 rentan usia 11-12 tahun. Di rentan usia ini, kita inget
apa yang kita pernah lakukan? Berusaha menarik perhatian lawan jenis
dengan berbagai cara. Mulai dari terpana bengong kaya sapi ompong liat
orang yang kita suka lewat depan kita. Berasa ada hembusan angin sama
balon-balon yang ditiup dari sabun segede-gede semangka.
Tapi...boro-boro negur yah, yang ada itu mulut mangaaap aja sampai itu
orang yang kita suka pergi menjauh dari hadapan kita. Betuul? Ngaku aja
:p Biasanya, kejadian kaya gini menimpa :
- Kita yang baru junior di sekolah ngeliatin senior yang rupanya bikin hati lumer secair eskrim tongtong.
-
Kita dengan temen kelas lain yang mukanya bikin kita ngumpet-ngumpet di
balik pintu saking pengen banget ngintip itu orang yang lagi di luar.
Padahal, kenal juga kaga, cuma tau info dari temen aja.
- Kita dengan temen yang cantik atau ganteng luar biasa sejagad sekolahan, padahaaal...yai itu tadi..ga kenal sama sekali.
Dan...akhirnya cuma bisa bikin kita bengang-bengong terpana tiap orang pujaan kita lewat!
2. Pas kita SMP kelas 2 rentan usia
13-14 tahun. Di rentan usia ini, kita mulai pendekatan. Mulai mendekati
orang yang kita suka. Kalo senior favorit ga kesampaian, alhasil pindah
pendekatan ke temen yang bikin jantung hati kita deg-deg seeer tiap liat
itu orang. Biasanya sih setelah 3 hari pendekatan langsung deh tuh
menyatakan perasaan. Rentan usia segini, biasanya kalo pacaran itu bikin
puisi cinta ahaiii, terus ngambek-ngambekan terus 3 menit kemudian
baikan eh ngambek lagi, terus pacarannya diem-diem kaya marmut ketelen
rambutan, paling banter sneyum-senyum atau liat-liatan aja. Setuju?
3. Pas
kita SMP kelas 3 rentan usia 15-16 tahun. Di rentan usia ini, bagi yang
sudah pacaran biasanya...putus tiba-tiba karena eh karena alesannya mau
ujian dan bakal pisah sekolah.
Cailaaah...biasanya ngomongnya gini, "Aku sayang banget sama kamu. Cuma
ngerasa kita ga bakal lama. Aku ke sekolah ini, kamu ke sekolah sana.
Biarpun kita putus..tetep temen baik yah..." Ada yang pernah mengalami
kejadiaan kaya gini? Hahaha awaaas jangan nyengir-nyengir!
4. Pas kita SMA kelas 1 rentan usia
16 tahun. Di rentan usia ini, biasanya kita bakal bersikap jadi kaya
anak SMP kelas 1. Masih malu-malu dan lebih banyak ga jelas dengan orang
yang kita suka. Intinya sih sama orang yang jadi pacar kita cuma
sekedar suka aja karena suatu hal, entah pinter, cantik, tenar atau apa
pun. Bener ga?
6. Pas kita SMA kelas 3 rentan usia 17-18
tahun. Biasanya...di sini timbul masa-masa galau. Galau antara pengen
bareng terus kaya centong nasi sama nasinya, galau karena takut jauh
sama pacarnya, galau kalau ga didatengin malem mingguan, galau kalau si
dia ga bisa nemenin kita ke acara temen, mungkin lebih banyak galaunya
yah daripada seriusnya hehehe. Setuju? Satu lagi, fase cinta di kelas
ini hampir sama dengan di fase cinta di kelas 2 SMA.
Nah,
itu dia fase-fase cinta yang mungkin pernah rasakan pas remaja kemarin.
Walaupun saya sendiri belum merasa jadi dewasa dan ga pantes juga kalo
dibilang masih remaja, jadi pada fase selanjutnya..selepas SMP-SMA,
artinya fase kuliah, mungkin sebagian dari kita mulai sadar apa itu yang
disebut cinta. Cinta itu bukan berdasarkan hati kebat-kebit pas ngeliat
lawan jenis yang bikin hati mentereng teriak-teriak "AYO KENALAAAN..AYO
DEKETIIIN" bukan itu. Cinta juga bukan berdasarkan si lawan jenis itu
baik setengah hidup ke kita, bukan itu juga. Baiknya orang juga belum
tentu 'baik' secara luar dalam loh hatinya. Cinta juga bukan berdasarkan
kita sayang dia, dia sayang kita, bukan juga. Jadi cinta sebenernya itu
gimana yah...saya pun sampai saat ini juga sangat belia banget kalau
ditanya soal cinta. Kalo kata orangtua, 'anak piyik udah ngomongin
cinta, sekolah dulu yang bener, baru nyari cinta.' Nah, jadi cinta tuh
apaaa? Hahahaha bingung kan?
Dan, balik lagi ke soal CINTA MONYET.
Dikatakan cinta monyet mungkin juga karena, sikap remaja saat pacaran
yang lebih banyak cengar-cengir, ngambek-ngambekan, loncat sana sini,
lirik sana sini, belum punya pendirian yang kuat, itu terjadi pada sikap
anak monyet atau kera yang hobinya kaya gitu. Lirik sana sini,
colak-colek sana sini, melet sana sini, mangap sana sini, pecicilan ga
karuan sana sini kalo liat yang indah-indah. Nah..mungkin itu dia kenapa
dikatakan cinta monyet oleh para orang tua.
Kita dan Cita-Cita
Hellooo
para pembaca..hari ini saya terdorong untuk menulis tentang cita-cita.
Alasannya? Karena, saya yakin setiap manusia itu punya cita-cita. Dan,
rasanya hal ini para pembaca juga sudah mengetahuinya, bukan? Namun, di
cita-cita di sini bukan sekedar tentang ‘mau jadi saat kita besar nanti’
tapi juga tentang ‘hal yang ingin kita dapatkan hari ini’. Ya, bagi
saya itulah cita-cita.
Baiklah, mungkin langsung saja ya kita bahas topik ini.
Cita-cita? Apa sih sebenarnya cita-cita itu? Kalau dari dua hari yang
lalu Anda rasanya ngidaaam banget sama bakso, namun karena pekerjaan
yang benar-benar padat alhasil impian makan bakso telur dengan mie
kuning pun luluh lantah. Tapi, ternyataaa karena hasil pekerjaan Anda
selama beberapa hari ini memuaskan untuk atasan Anda, alhasil atasan
Anda itu berbaik hati untuk mentraktir Anda makan pizza! Nahloh, terus
baksonya? Baksonya tetap dikabulkan Tuhan kan? Sekarang coba deh kita
pikirkan lagi, bakso dan pizza sama-sama makanan yang enak. Namun,
masing-masing punya tingkat kelezatan tersendiri. Nah, karena pekerjaan
Anda di mata atasan Anda ternyata dianggap memuaskan maka Tuhan
memberikan pizza sebagai ganti bakso yang beberapa hari lalu Anda
idam-idamkan. Di sini, apakah cita-cita Anda untuk makan bakso tidak
terkabul? Terkabul, jawabannya! Seperti yang tadi saya katakana, Tuhan
memberikan pizza sebagai ganti bakso untuk Anda atas hasil kerja keras
Anda lewat traktiran atasan Anda.
Lalu, jika Anda masih belum puas dengan satu contoh
cita-cita di atas, saya akan berikan lagi kisah lainnya. Ketika
teman-teman Anda terlihat bahagia atas hasil pengumuman masuk
universitas dan jurusan yang diinginkan mereka ternyata tercapai, kala
itu Anda hanya terbengong-bengong dengan pengumuman di layar computer
Anda “ Selamat Anda diterima di Jurusan Hukum” TOENG..TOEENG!! padahal
dengan mengikuti paket IPC yang Anda harapkan adalah masuk Jurusan
Pendidikan Dokter. Lalu…apakah ini artinya berakhir cita-cita Anda?
Tidak, jawabannya! Karena, sebenarnya Anda sendiri belum melihat seperti
apa cita-cita itu kan? Apa Anda sudah tahu kalau masuk jurusan Hukum
Anda pasti jadi pengacara? Atau jadi notaris? Pasti? Tidak kan? Kalau
Anda tidak kerja keras lagi, toh sama saja masuk Hukum atau Kedokteran
tidak akan membuahkan cita-cita yang sebenarnya.
Nah, contoh lebih konkretnya lagi ya..misalnya, Anda sudah
punya kekasih yang telah jalan selama 9 tahun! Ya ampun lama banget ya
hehe..kan misalnya. Nah, ternyata eh ternyata saat Anda duduk di
pelaminan, ternyata pasangan hidup Anda ternyata bukan kekasih Anda yang
selama 9 tahun itu. Siapa pasangan hidup Anda? Ternyata dia adalah
orang yang Anda pernah lewati sepintas saat menunggu bis di halte. Nah
nah nah…apa artinya cita-cita Anda untuk menikah dengan kekasih hati
tidak tercapai? Tercapai kan? Kalau Anda tidak cinta dengan kekasih hati
yang duduk di samping Anda di pelaminan itu, terus itu siapa dong?
Bukan kekasih hati?
Lalu, misalnya Anda ingin sekali punya mobil. Ngeliat mobil
teman sejawat rasanya pengeeen banget bisa ngerasain jok mobil kulit
yang empuk dan terhindar dari hujan serta panas bahkan debu kota
Jakarta. Beberapa hari kemudian, ternyata Anda menerima kiriman motor
dari orangtua Anda yang ada di kota lain. Tanpa babibu dan harus
mengeluarkan kocek besar sampai kredit motor di dealer, ternyata dalam
waktu sekejap sudah ada motor mulus di depan rumah kontrakan Anda. Apa
artinya cita-cita Anda punya mobil tidak tercapai?Iya? Tetap tercapai.
Motor dan mobil sama-sama kendaraan yang bisa mengantar Anda pergi dan
pulang dari suatu tempat tanpa harus mencicipi bangku angkot yang 6-4
itu kan?Tapi, tingkat kenyaman dari kendaraan itu tergantung Anda
sendiri. Namun, tetap saja kan Tuhan memberikan Anda kendaraan untuk
hari ini?
Dari beberapa kisah di atas tadi ternyata memberitahukan
kepada kita bahwa cita-cita itu tidak hanya sekedar Anda sekolah tinggi
jadi dokter, jadi guru, jadi pilot, dan sebagainya. Namun, setiap
keinginan Anda hari kemarin dan ternyata diberikan Tuhan hari ini adalah
CITA-CITA ANDA. Cita-cita selalu diberikan Tuhan sesuai dengan
keinginan Anda. Tidak pernah Tuhan melupakan cita-cita yang Anda
inginkan selama Anda bekerja keras mendapatkan cita-cita Anda. Namun,
Tuhan punya pesan yang indah bila cita-cita Anda sudah dikabulkan.
Apakah Anda bersyukur atas karunia-Nya hari ini? Atau Anda malah
menggerutu atas karunia-Nya hari ini? Itu saja.
Cita-cita yang diberikan Tuhan hari ini sama dengan apa yang Anda inginkan selama Anda bekerja keras kemarin.
Saya Pemuda, Saya Ingin Melindungimu....
When
you’re in love you never really know whether your elation comes from
the qualities of the one you love, or if it attributes them to her;
whether the light which surrounds her like a halo comes from you, from
her, or from the meeting of your sparks. ~Natalie Clifford Barney
Ini hanya sebuah catatan hidup sayaDalam sebuah kertas lusuh yang biasa saya gunakan untuk mencatat hutang
Tak perlu kalian tanya isinya hutang apa saja
Yang pasti ada hutang pulsa di dalamnya
Hutang nasi di warteg dekat kampus
Hutang membeli bahan-bahan melukis
Melukis ?
Hah, apa kau melukis?
Itu kata temanku, tempo hari lalu
Ya, kenapa ?
Bisa ?
Begitu katanya.
Ya, biarpun tidak bagus tapi aku puas dengan hasil jerih payahku.
Konyol kau.
Begitu lagi kata temanku.
Biarlah. Kau tidak tahu apa yang sedang aku lakukan
Lebih baik kau diam saja.
Begitu kataku.
Temanku tertawa terkekeh - kekeh.
Kawan, begini akan kuceritakan mengapa aku melukis.
Tentu kau jangan menertawaiku dulu.
Aku pria yang berlatar belakang ekonomi.
Boro-boro menyentuhkan tangan di atas kanvas
Memegang kuas apalagi menggoreskan cat warna saja aku tidak bisa.
Aku hanya pandai memainkan mataku untuk melihat catatan angka-angka
yang 'njelimet', menggenggam kalkulator, melihat perkembangan saham di negeri ini.
Itulah kerjaanku sebagai mahasiswa ekonomi.
Dan aku sangat tidak seni ataupun hal-hal yang bersifat menyeni.
Gak ngerti gue !
Oke, saya akan mulai dengan cerita hidup saya.
8 tahun yang lalu saat saya masih mengenyam pendidikan strata satu ekonomi
saya dihinggapi rasa takut.
Ini bukan tentang kuliah, kawan.
Kuliahku lancar-lancar saja, syukur.
Ini tentang cinta.
Hei, jangan ketawa dulu !
Dengerin gue....
Biar lebih akrab, saya menamakan diri saya 'gue' saja.
tak apa kan ?
"Gue adalah pemuda yang biasa saja.
Muka ga jelek, juga ga cakep-cakep amet
Gue juga modis dalam berpenampilan, biasa malah standar tapi ga sestandar motor gue loh haha maklum motor bebek yang sudah menerjang banjir lebih dari 10 kali sudah seperti rempeyek kacang.
Gue gak hobi jalan-jalan ke mal, tapi gue suka nongkrong sama temen-temen gue sekedar ngopi, atau bahas perekonomian di negeri ini.
Yah, walaupun gue gini tapi keingintahuan gue terhadap ekonomi dan bisnis sangat kuat hehe
Oke, satu lagi yang gue pengen bilang
gue gak bergelimang harta
dan gue paling anti minta sama ortu gue. Karena gue anak cowok, pemuda.
Gitulah gengsi dikit sebagai pria hihi malu.
Gue, pria normal.
artinya...gue saat itu lagi jatuh cintrong sama seorang wanita
uhuuuy
Tapi, ada tapinya nih..
Itu wanita 'tinggi' banget dan gue sangat takut mendekatinya.
Berasa ga pas bangetlah gue jadi pacar dia saat itu.
Dan, saat itu benar-benar cuma wanita itu yang jadi idaman gue selama gue kuliah.
Gue yang mungkin bisa dibilang oleh orang-orang, "Lo sama dia? Buset ga pantes banget cuy. Dia taraf tinggi. Dan sholeha.."
"What? gue ga pantes gitu?"
"Iya sih..hmm.."
Seiring waktu gue kuliah akhirnya karena gue udah ga tahan pengen ngungkapin rasa yang gue miliki ke dia, akhirnya....."
Ya, cukup waktu 4 tahun saja saya berstatus sebagai pacarnya, dan kalian tahu, saat ini wanita itu telah menjadi ibu terbaik untuk anak saya yang baru beberapa hari yang lalu datang ke dunia ini lewat rahimnya.
Dan saya, yang menurut orang-orang tidak pantas menjadi pendamping hidup wanita itu kini telah sah menjadi imamnya.
Saya yang saat itu mempunyai keyakinan bahwa saya serius dengannya, dan saya sebagai pemuda berniat ingin melindunginya seumur hidup wanita itu, sudah tercapai niat luhur saya.
Kawan, jangan pernah merendahkan diri anda sendiri, bahwa anda tidak mampu. Apalagi sebagai pria. Yang nantinya akan menjadi imam bagi istri anda. Percayalah, Tuhan itu Maha Adil.
Saya yang sangat biasa, mendapatkan wanita yang luar biasa.
Dibilang nge-trend, bangga?
Jaman sekarang itu jaman gaya-gayaan atau jaman....? Silahkan lihat percakapan ini.
orang 1 : Hey, beb..minta pin BB doong. Biar bisa BBM-an ntar..
orang 2 : Aduh, sorry gue gak punya BB. Adanya pin atm, mau?
Termasuk tipe orang yang manakah anda?
Jaman sekarang itu jaman update status atau jaman....? Silahkan lihat percakapan ini.
orang 1 : Eh sumpah ya, macet banget ini jalanan Jakarta ! Apa banget sih ih
grrrr..
orang 2 : Biasa kali Jakarta macet, baru tau? Di kampung aja macet kalo ada kebo lewat jalan raya. Ngapain lo megang hp?
orang 1 : Bentar, gue update status dulu ! Macet gilaaa..
Termasuk tipe orang yang manakah anda?
Jaman sekarang itu jaman justin bieber atau jaman....? Silahkan lihat percakapan ini.
orang 1 : ih gue kasih tau ya lo, ini justin bieber ! sumpah, gahul gilaaa
gayanya ababil banget !
orang 2 : oh, ababil? terus lo apa? labilbieber?
orang 1 : iiissssh..apa deh lo !
Termasuk tipe orang yang manakah anda?
Jaman sekarang itu jaman menor atau jaman....? Silahkan lihat percakapan ini.
orang 1 : Guys, nyalon yuuk..gatel nih rambut gue. Udah gak beres banget..
orang 2 : Sorry, rambut gue gak pernah gatel. Shampo gue soalnya bener.
Termasuk tipe orang yang manakah anda?
Jaman sekarang itu jaman unyu-unyu atau jaman...? Silahkan lihat percakapn ini.
orang 1 : ih beb, kangen deh..unyu-unyuuu..menye-menyee..
orang 2 : kenape deh lo?
orang 1 : ih lo tuh dimanja gak mau !
orang 2 : pas kecil udah keseringan, bosen gue.
Termasuk tipe orang yang manakah anda?
Jaman sekarang itu jaman upload foto langsung dari hp atau jaman...? Silahkan lihat percakapan ini.
orang 1 : Guys, foto-foto doong ntar langsung gue upload dari BB gue aja ya!
orang 2 : Sepenting itukah upload foto langsung dari BB?
Termasuk tipe orang yang manakah anda?
Jaman sekarang itu jaman untuk sesuatu hal yang tidak penting atau jaman...? Silahkan lihat percakapan ini.
orang 1 : Guys, follow me ya @babibalabalamenarihulahula
please RT
orang 2 : Sorry gue gak punya. Gue punyanya twister tuh di kulkas, banyak!
Termasuk tipe orang yang manakah anda?
Jaman sekarang itu jaman jam kuning atau jaman....? Silahkan lihat percakapan ini.
orang 1 : Say, jam gue sama kayak si itu loooh hahaha asli.
orang 2 : Terus..?
orang 1 : Lo gak beli? lagi model kali sekarang.
orang 2 : Pasaran.
Termasuk tipe orang yang manakah anda?
Jaman sekarang itu jaman wanita celana seksi atau jaman....? Silahkan lihat percakapan ini.
orang 1 : Ih kok baju lo itu-itu aja sih, kali-kali pake yang ngelihatin bahu dikit
biar bagus diliatnya.
orang 2 : Oh gitu? terus?
orang 1 : Anggun jadinya..masa pake t-shirt mulu, jeans..ih..
orang 2 : lo pake baju gitu ada yang liat lo?
orang 1 : ada, cowok-cowok..
orang 2 : hehe ojek depan rumah lo yeh?
Termasuk tipe orang manakah anda?
Jaman sekarang itu jaman gengsi atau jaman....? Silahkan lihat percakapan ini.
orang 1 : ih, metromini kok bau sih????!!!! huuueeek
orang 2 : emang biasa naik apa kalo pergi?
orang 1 : nyetir kaleee gue !
orang 2 : nyetir andong ya makanya baru tau metromini tuh bau.
Termasuk tipe orang manakah anda?
Jaman sekarang itu jaman plamir muka atau jaman...? Silahkan lihat percakapan ini.
orang 1 : aduh, muka gue..
orang 2 : kenapa tuh muka lo?
orang 1 : belum pake obat lagi
orang 2 : emang muka lo kena flu yeh?
orang 1 : maksud gue belum konsul kaliii
orang 2 : oh..bermasalah.
orang 1 : jerawat dimana manaaaaa tidaaaak ! bruntusan.
orang 2 : syukuri aja normal toh bisa punya jerawat pas muda.
Termasuk tipe orang yang manakah anda?
Jaman sekarang itu jaman yang penting punya gadget atau jaman...? Silahkan lihat percakapan ini.
orang 1 : BB gue udah ancur deh..
orang 2 : kenapa?
orang 1 : tau nih trackball gue..ngeselin !
orang 2 : masih bisa dipake gak?
orang 1 : bisa sih, tapi susah.
orang 2 : hape lain lo apa emang?
orang 1 : tante esi-hidayah. aduhh BB gue...mampus nih !
orang 2 : oh ----> orang 2 ini di dalam tasnya ada 3 hp
android, dan 2 gsm dari hp keluaran terbaru dengan harga 2 juta
ke atas.
Termasuk tipe orang yang manakah anda?
Dari cuplikan percakapan di atas,yang manakah anda?
Ternyata, nge-trend, ngikutin zaman yang ada,dengan segala kelengkapan ter-up to date di masyarakat tidak sepenuhnya membuat kita bangga. Bahkan, seharusnya kita berpikir apakah makna dari era globalisasi itu sendiri. Ya, tidak sepenuhnya berkutat pada kehebohan alat-alat canggih yang ternyata malah membuat diri kita menjadi bahan tertawaan orang lain meski hanya dalam hatinya.
Nge-trend tidak hanya dilihat dari apa yang anda miliki saat ini, dari barang apa saja yang anda punyai, dari segala keadaan yang memperlihatkan bahwa anda itu Wah! Jika anda berpikiran seperti itu, artinya anda masih sama seperti anak kecil yang maunya mendapat pujian tanpa cercaan sedikitpun dari orang lain. Jika anda mau dikatakan nge-trend terhadap zaman, cobalah untuk bersikap sederhana dalam menyikapi segala bentuk hal yang sifatnya baru di masyarakat. Bila suatu kemewahan disikapi dengan sederhana, toh tidak rugi. Mewahkanlah rohanimu, bukan materimu. Bila suatu kemewahan disikapi dengan rasa wah juga, apa itu tidak mengundang kesirikan pada orang-orang di sekitarmu? Toh yang berlebihan itu juga tidak bagus kan?
Jauhkanlah segala topeng yang menutupi wajahmu yang sebenarnya, Tuhan tidak memilih hamba-Nya dilihat apakah di nge-trend atau tidak. Jika trend hanya menjadi topeng bagi dirimu, buanglah itu jauh-jauh. Toh, suatu hari nanti kita semua sama dihadapan-Nya.
Jadi, dibilang nge-trend, bangga?
Aku Ini Siapa?
Banyak tahun aku telah berdiri di muka bumi ini
Banyak teman yang telah kutemukan
Segala bentuk karakter diri telah kutemui
Dari orang-orang di sekitarku, tentunya...
Bundaku pernah berkata
"Dunia bukan teman sejatimu, tapi dia perantara dirimu untuk menemukan siapa kamu.."
Apa kalian mengerti maksud ucapan Bundaku?
Aku?
Selama ini aku telah menghabiskan hari-hariku dengan apa?
Tiap hari kerjaku hanya sekolah dan sekolah
Keluhan sering keluar dari bibirku karena tugas menumpuk
Tiap hari kerjaku hanya minta uang saku pada Ayahku
Jika sedikit, aku menggerutu
Padahal Ayah sangat susah mencari nafkah untuk anak istrinya
Tiap hari aku berjumpa dengan kekasihku
Tak mengerti kalau Bundaku merindukanku
Aku senang-senang, Bundaku menangis pilu di kamarnya
Tiap libur aku bangun siang, makan, dan menonton
Padahal aku tahu Bunda sedang memasak di dapur
Aku hanya mencicipi masakannya saja dan menunggu waktunya makan
Padahal dalam hati Bunda, ia ingin sekali aku belajar memasak
Karena...
Aku anak perempuan satu-satunya...
Tiap libur, aku hanya melanjutkan tontonan dari televisi saja
Padahal aku lihat Bunda bersusah payah membawa plastik belanjaan dari pasar
yang jauh dari rumah
Dan aku hanya menanyakan apa Bunda bawa kue-kue jajanan untukku?
Sore itu aku menonton acara gosip
Ada berita hangat darinya
Waw ! sumpah enggak banget deh ini orang, sok mentang-mentang terkenal !
Itu kataku.
Langsung ku online untuk membahas gosip tentang orang itu lewat gadget yang sedang digandrungi masyarakat
Puasnya aku ketawa haha hihi dengan teman-temanku
Aku tidur.
Esoknya, aku lihat Ayah sedang ditelepon seseorang.
Aku mengintip.
Kulihat Ayah menangis pelan.
Kukira biar tidak ketahuan Bunda atau adikku. Mungkin..
Yang kudengar beliau mengucap,"Ya Tuhan..mudahkanlah hamba-Mu ini dalam mencari rizki untuk keluargaku. Jadikan anak-anak hamba menjadi sosok yang sederhana dan tahu akan keadaan orangtuanya...amin...semoga besok hutang pada temanku untuk biaya menyenangkan anakku agar dia bisa seperti teman-temannya bisa kulunasi "
Saat itu, aku lemas..tertunduk menahan airmata..
Aku ini siapa????
berani-beraninya aku membuat hati orangtuaku bersedih !!
Aku ini siapa???
Aku bukan anak pejabat, ayahku bukan konglomerat.
Aku tak prihatin.
Hanya dengan kemanjaanku yang tak benar ini, Ayah jadi dimaki-maki orang.
Karena belum bayar hutang, karena Ayah ingin membelikanku gadget terbaru seperti teman-temanku yang kuminta dihari ulang tahunku.
Aku ini siapa????
Tiap bulan aku selalu menagih uang pada Ayah.
Padahal uang itu hanya untuk kongkow-kongkow dengan teman-temanku..!
Maaf..Ayah Bunda..aku sering menyakiti hati kalian...
mulai detik ini aku janji untuk menjadi anak yang sederhana tapi bisa membanggakan kalian, seperti yang kalian minta padaku waktu aku kecil dulu...
aku berjanji, dunia bukan sahabat sejatiku..tapi dia hanya perantara diriku supaya aku bisa menemukan jati diri aku yang sesungguhnya...
aku janji !
Banyak teman yang telah kutemukan
Segala bentuk karakter diri telah kutemui
Dari orang-orang di sekitarku, tentunya...
Bundaku pernah berkata
"Dunia bukan teman sejatimu, tapi dia perantara dirimu untuk menemukan siapa kamu.."
Apa kalian mengerti maksud ucapan Bundaku?
Aku?
Selama ini aku telah menghabiskan hari-hariku dengan apa?
Tiap hari kerjaku hanya sekolah dan sekolah
Keluhan sering keluar dari bibirku karena tugas menumpuk
Tiap hari kerjaku hanya minta uang saku pada Ayahku
Jika sedikit, aku menggerutu
Padahal Ayah sangat susah mencari nafkah untuk anak istrinya
Tiap hari aku berjumpa dengan kekasihku
Tak mengerti kalau Bundaku merindukanku
Aku senang-senang, Bundaku menangis pilu di kamarnya
Tiap libur aku bangun siang, makan, dan menonton
Padahal aku tahu Bunda sedang memasak di dapur
Aku hanya mencicipi masakannya saja dan menunggu waktunya makan
Padahal dalam hati Bunda, ia ingin sekali aku belajar memasak
Karena...
Aku anak perempuan satu-satunya...
Tiap libur, aku hanya melanjutkan tontonan dari televisi saja
Padahal aku lihat Bunda bersusah payah membawa plastik belanjaan dari pasar
yang jauh dari rumah
Dan aku hanya menanyakan apa Bunda bawa kue-kue jajanan untukku?
Sore itu aku menonton acara gosip
Ada berita hangat darinya
Waw ! sumpah enggak banget deh ini orang, sok mentang-mentang terkenal !
Itu kataku.
Langsung ku online untuk membahas gosip tentang orang itu lewat gadget yang sedang digandrungi masyarakat
Puasnya aku ketawa haha hihi dengan teman-temanku
Aku tidur.
Esoknya, aku lihat Ayah sedang ditelepon seseorang.
Aku mengintip.
Kulihat Ayah menangis pelan.
Kukira biar tidak ketahuan Bunda atau adikku. Mungkin..
Yang kudengar beliau mengucap,"Ya Tuhan..mudahkanlah hamba-Mu ini dalam mencari rizki untuk keluargaku. Jadikan anak-anak hamba menjadi sosok yang sederhana dan tahu akan keadaan orangtuanya...amin...semoga besok hutang pada temanku untuk biaya menyenangkan anakku agar dia bisa seperti teman-temannya bisa kulunasi "
Saat itu, aku lemas..tertunduk menahan airmata..
Aku ini siapa????
berani-beraninya aku membuat hati orangtuaku bersedih !!
Aku ini siapa???
Aku bukan anak pejabat, ayahku bukan konglomerat.
Aku tak prihatin.
Hanya dengan kemanjaanku yang tak benar ini, Ayah jadi dimaki-maki orang.
Karena belum bayar hutang, karena Ayah ingin membelikanku gadget terbaru seperti teman-temanku yang kuminta dihari ulang tahunku.
Aku ini siapa????
Tiap bulan aku selalu menagih uang pada Ayah.
Padahal uang itu hanya untuk kongkow-kongkow dengan teman-temanku..!
Maaf..Ayah Bunda..aku sering menyakiti hati kalian...
mulai detik ini aku janji untuk menjadi anak yang sederhana tapi bisa membanggakan kalian, seperti yang kalian minta padaku waktu aku kecil dulu...
aku berjanji, dunia bukan sahabat sejatiku..tapi dia hanya perantara diriku supaya aku bisa menemukan jati diri aku yang sesungguhnya...
aku janji !
CERITA SI DAUN KERING DAN SEMUT KECIL
Kau si daun kering
yang tergeletak pasrah
di perbukitan hijau
hanya berharap
hembusan angin
menerbangkan tubuhmu
membawa pada
kumpulan dedaunan
yang hijau segar
di kaki bukit itu
Katanya, kau ingin belajar
bagaimana menjadi
daun hijau segar
tapi apa daya
tubuhmu sudah terlanjur kering
sampai-sampai cacing kurus pun
enggan mendekatimu
sampai-sampai tetesan embun
tak lagi mampu membantu
agar kau tampak indah
meski sesaat
Ya, kau yang semakin pasrah
menjalani kehidupanmu
sebagai si daun kering
yang hujan deras pun membasahimu
masih tetap tak membuatmu terasa segar
yang terik matari pagi
tak lagi mampu
membuatmu hijau
Hingga suatu ketika
kau menemui semut kecil
yang melintas di dekat tubuhmu
dan kau bertanya;
"Hai semut kau merasa dirimu kuat di atas kecilnya tubuhmu?"
Semut terkekeh, "Ya, tentu! dan itu harus wahai daun kering!", "Aku sangat menikmati diriku yang kecil ini. Selama Tuhan memberikan aku waktu menikmati dunia, apapun tubuhku, aku sangat bahagia! Bagaimana denganmu?"
Dan kau, si daun kering
melemaskan dirimu
di atas permadani perbukitan
yang hijau segar
"Ya, aku tampak pasrah selama ini. Padahal tiap hari aku ada di atas bukit ini. Lebih indah melihat pemandangan dari sini. Sedangkan si daun hijau, ada di kaki bukit. Dan mereka terlalu sering bertemu kehidupan monoton."
Semut terkekeh sambil mengunyah makanannya
yang entah apa itu
"Kau kering dan kau pasrah. Tapi apa kau tahu? Daun hijau ingin sepertimu. Kau pasrah, tapi kau tulus atas kekeringanmu itu."
Dan atap perbukitan
dengan awan-awan yang menghitam
di langit
mulai menghujani
si daun kering
dan si semut berkata;
"berteduh di dekatmu, aku tak kehujanan. terima kasih atas kekeringanmu pada Tuhan"
yang tergeletak pasrah
di perbukitan hijau
hanya berharap
hembusan angin
menerbangkan tubuhmu
membawa pada
kumpulan dedaunan
yang hijau segar
di kaki bukit itu
Katanya, kau ingin belajar
bagaimana menjadi
daun hijau segar
tapi apa daya
tubuhmu sudah terlanjur kering
sampai-sampai cacing kurus pun
enggan mendekatimu
sampai-sampai tetesan embun
tak lagi mampu membantu
agar kau tampak indah
meski sesaat
Ya, kau yang semakin pasrah
menjalani kehidupanmu
sebagai si daun kering
yang hujan deras pun membasahimu
masih tetap tak membuatmu terasa segar
yang terik matari pagi
tak lagi mampu
membuatmu hijau
Hingga suatu ketika
kau menemui semut kecil
yang melintas di dekat tubuhmu
dan kau bertanya;
"Hai semut kau merasa dirimu kuat di atas kecilnya tubuhmu?"
Semut terkekeh, "Ya, tentu! dan itu harus wahai daun kering!", "Aku sangat menikmati diriku yang kecil ini. Selama Tuhan memberikan aku waktu menikmati dunia, apapun tubuhku, aku sangat bahagia! Bagaimana denganmu?"
Dan kau, si daun kering
melemaskan dirimu
di atas permadani perbukitan
yang hijau segar
"Ya, aku tampak pasrah selama ini. Padahal tiap hari aku ada di atas bukit ini. Lebih indah melihat pemandangan dari sini. Sedangkan si daun hijau, ada di kaki bukit. Dan mereka terlalu sering bertemu kehidupan monoton."
Semut terkekeh sambil mengunyah makanannya
yang entah apa itu
"Kau kering dan kau pasrah. Tapi apa kau tahu? Daun hijau ingin sepertimu. Kau pasrah, tapi kau tulus atas kekeringanmu itu."
Dan atap perbukitan
dengan awan-awan yang menghitam
di langit
mulai menghujani
si daun kering
dan si semut berkata;
"berteduh di dekatmu, aku tak kehujanan. terima kasih atas kekeringanmu pada Tuhan"
salah satu novel saya yang saya ambil dari dosen bahasa saya karena novel ini novel yang membuat saya lebih semangat lagi untuk menjalankan hidup ini
Assalamualaikum...
Selamat malam teman-teman yang sedang membaca blog saya. Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih karena baik sengaja maupun tidak sengaja, teman-teman telah meluangkan sedikit waktunya untuk membaca salah satu tulisan saya di blog ini.
Entah, malam ini, tiba-tiba saya terdorong ingin menulis tentang keikhlasan tanpa syarat. Mengingat kemarin malam, saya panjang lebar saling bercerita dengan salah seorang teman baik saya, bernama Rivaldi, atau biasa dipanggil dengan sebutan Bule (karena perawakannya indo-indo begitu). Ya, kami membahas soal keikhlasan.
Keikhlasan tanpa syarat. Sebenarnya, jika saya ditanya oleh orang, apakah saya termasuk orang yang ikhlas, saya juga bingung jawabnya. Kalau saya jawab, iya saya adalah orang yang ikhlas, bisa jadi orang tersebut malah tidak yakin dengan jawaban saya. Mungkin juga malah jadi berpikir, “Kok ikhlas ngomong-ngomong sih?”. Namun, jika saya jawab, “Saya nggak tahu, saya orang yang ikhlas atau bukan”. Bisa jadi orang tersebut malah menertawai saya karena jawaban saya. Mungkin juga timbul pikiran, “Ya masa memahami dirinya sendiri nggak bisa, bagaimana memahami orang lain?”. Mengapa dengan kedua jawaban yang berlawanan seperti itu, jawaban tentang ikhlas akan selalu terasa tidak sesuai? Ya, itulah manusia. Kita berbuat baik atau berbuat tidak baik, ada saja yang terlihat salah dari mata orang lain. Begitu pula ketika kita menerapkan keikhlasan tanpa syarat di hidup kita.
Saya bukan seorang motivator yang bisa menerangkan secara jelas apa itu ikhlas. Saya juga bukan ahli agama yang lebih paham tentang ilmu ikhlas. Hanya saja, hingga saat ini saya selalu mencoba berusaha mendalami apa sebenarnya makna dari kata ikhlas di luar makna leksikalnya. Saya tidak ingin menjelaskan apa itu ikhlas, karena saya sendiri pun masih berusaha mendalami hal tersebut. Di sini, saya hanya ingin berbagi sedikit pengalaman dan bagaimana saya menyikapi pengalaman tersebut.
Untuk lebih mudahnya, saya mengambil hal-hal umum yang seringkali kita temui di kehidupan nyata. Persoalan kematian orang tercinta dan berpisah dengan seseorang yang kita sayangi. Tepatnya, kematian dan percintaan.
Usia saya saat ini 23 tahun. Ketika usia 16 tahun, tepatnya ketika saya masih duduk di bangku kelas XI IPA SMA, ibu saya meninggal dunia karena sakit jantung. Bisa teman-teman bayangkan? Ketika di usia itu, totally, saya tidak bisa apa-apa. Masih baik jika saya bisa masak air. Namun, nyatanya? Saya menyalakan kompor saja tidak bisa. Hingga pada usia itu, saya bisanya hanya bermain bersama teman, jalan-jalan dengan teman, pulang sekolah menanyakan makanan ke ibu saya, lalu melakukan aktivitas lain yang saya sukai. Aktivitas yang saya tidak sukai, apalagi beres-beres rumah, super jarang saya lakukan, kecuali di akhir pekan, itu juga hanya menyiram tanaman dan membersihakan tempurung kura-kura saya. Intinya, hingga usia 16 tahun, ketika ibu saya meninggal, status saya adalah anak termanja di dunia, mungkin.
Beberapa hari sepeninggal ibu saya, entah ada angin apa, di dalam kamar saya berpikir. “Ya Allah, kenapa sih ngambil Mama cepet banget. Aku nggak tahu bisa kuat atau nggak. Kenapa Allah ngambil Mama pas aku masih SMA begini? Kenapa nggak nanti pas aku udah mapan, udah gede, pas aku udah punya keluarga sendiri, pas aku udah benar-benar yakin bisa mandiri? Kalau sekarang aku nggak tahu bisa mandiri atau nggak. Kenapa Allah ngambil Mama di saat-saat aku butuh banget semangat dari Mama untuk aku ngadepin ujian akhir sekolah nanti? Di saat aku butuh saran ketika aku pilih jurusan di universitas nanti? Di saat anak lain kalau lagi suka sama temen cowok bisa curhat ke Mamanya, masa aku curhatnya ke Papa, kan sama Papa belum boleh pacaran, nanti ketahuan aku lagi suka sama orang terus malah jadi nggak bisa temenan deket sama cowok itu?. Ya, intinya berpikir ‘kenapa Allah Swt berkehendak memanggil ibu saya dalam waktu yang cepat, ketika saya berumur 16 tahun?’. Pikiran-pikiran yang cenderung mengarah ke keluhan kepada Allah Swt dan pertanyaan-pertanyaan batin, seperti ‘kenapa mesti saya yang harus mengalami ini lebih dulu dibandingkan teman-teman saya yang lain?’.
Selama dua bulan, saya kerap berpikir hal-hal tersebut, hingga pada akhirnya saya mendapat sebuah mimpi setelah saya shalat tahajud. Mimpi bertemu dengan ibu saya, namun ibu saya tidak bicara di mimpi itu, hanya tersenyum dan sesekali diam. Di mimpi itu, saya diajak ibu saya naik sebuah kereta yang ukurannya panjang sekali dan pemandangan di kiri-kanan kereta yang saya naiki sungguh-sungguh indah, tapi aneh menurut saya waktu di mimpi itu. Pepohonannya warna-warni, bentuk daunnya besar-besar dan bermotif, ada yang bulat, ada yang bercak-bercak kecil. Hawa di daerah itu sangat sejuk sekali, dan jalanannya seperti tertutup entah salju atau kapas, warnanya putih dan lembut, tapi saya tidak melihat ada cahaya matahari di sekeliling saya, hanya saja terang sekali. Rumah-rumah yang berdiri kokoh di perbukitan, bentuknya juga lucu-lucu, ada yang bentuk lonjong, kotak, segitiga, bulat. Aneh, tidak pernah saya lihat sebelumnya. Hingga pada ketika di mimpi itu, ibu saya menunjuk sebuah rumah berbentuk persegi dan ada bangunan segitiganya juga, berwarna putih dengan dikelilingi bunga-bunga, lalu saya bertanya, “Itu rumah Mama? Kok aneh bentuknya, Mah?”, ibu saya mengangguk dan tersenyum. Di mimpi itu, saya keluar kereta, dan berjalan ke arah rumah yang katanya ibu saya, itu ialah rumahnya. Saya disuruh tunggu di pelataran rumah, menunggu ibu saya yang menyapa seorang anak kecil dan seorang kakek yang tinggal di dekat rumah ibu saya itu. “Itu tetangga, Mama?”, dan ibu saya hanya mengangguk. Di mimpi itu, yang saya ingat semua orang-orang di sekitar saya memakai pakaian berwarna putih, persis pakaian ihram haji dan pakaian gamis panjang putih tapi tidak berkerudung. Hanya saya, yang saya sadari berbeda dari orang-orang di sekitar saya, pakaian yang saya kenakan, jeans dan kaos panjang. Entah, di mimpi itu saya juga hanya memerhatikan sekitar dan aktivitas yang ibu saya lakukan. Menyiram bunga, bersenda gurau dengan tetangganya, ya...saya ditinggal sendiri oleh ibu saya di mimpi itu. Sampai ketika saya diajak ibu saya ke sebuah ruangan besar berwarna putih dan lagi-lagi saya diisyaratkan untuk menunggu ibu saya saya. Di ruangan itu ada sebuah piano ukurannya mungkin seperti grand piano, warnanya lagi-lagi putih. Saya hanya celingak-celinguk. Anehnya, orang lain seperti tidak melihat saya, atau saya yang tidak terlihat, tidak tahu, namanya juga mimpi. Sekembalinya ibu saya, ternyata beliau didampingi oleh sesosok pria (wajahnya tidak terlihat jelas, tapi saya tahu ia sesosok pria). Pria itu berkacamata, berkulit putih susu, badannya tinggi besar (bongsor), dan ia menggandeng tangan ibu saya. Di bagian mimpi inilah, satu-satunya waktu ibu saya mengeluarkan suara kepada saya, yaitu “Ade tenang aja ya. Mama di sini baik-baik aja. Ade harus mandiri dan sabar. Nanti, dia (maksudnya si pria di mimpi ini) yang akan nemenin Ade. Ade jangan sedih, dia anak baik pasti sayang sama Ade.” Dan, bagian mimpi selanjutnya, saya bermain piano bersama pria itu. Tiba-tiba ruangan itu jadi sangat terang, dan orang-orang yang berpakaian putih di sekitar saya juga hilang, termasuk ibu saya, habis itu saya terbangun. Begitulah mimpi. Sampai sekarang saya masih suka berpikir maksud dari mimpi itu. Walaupun mimpi adalah bunga tidur, tapi Allah Swt punya sekian banyak cara dan perantara untuk hamba-Nya berpikir, bukan? Jadi, kadang saya masih penasaran makna dari mimpi itu, hingga saat ini. Sangat jelas tiap-tiap gambaran di mimpi itu.
Sejak saya mengalami mimpi itu, entahlah ada angin apa, saya jadi sangat semangat untuk belajar menjadi seorang anak perempuan yang mau tahu urusan rumah. Belajar memasak, mencuci baju, menyapu, mengepel, dan sedikit demi sedikit mengubah penampilan saya lebih feminin dibandingkan sebelumnya, sekalipun kadang saya masih keluar grasak-grusuknya. Tanpa saya sangka sendiri, saya berani menyalakan kompor, saya bisa masak mie sendiri, bisa masak air sendiri, akhirnya bisa masak nasi sendiri, dan saya mau kotor-kotoran membersihkan rumah. Tadinya mah boro-boro... hehe... mencuci piring aja kalau tidak dipelototin dulu juga tidak gerak. Akhirnya pun, saya bisa menyetrika baju sendiri dengan lipatan yang rapi dan halus. Tadinya? Jangan ditanya deh hehe.. Ampuuun.. :) Kesemua hal itu saya dapat lakukan tanpa diajari oleh orang yang lebih dewasa atau lebih berpengalaman. Setelah kejadian mimpi itu, saya berpikir, saya berniat, saya hanya harus bisa menjaga ayah saya dengan baik sepeninggal ibu saya, bagaimana pun caranya. Hanya itu. Di sisi lain, dalam hati saya, keluhan-keluhan saya ke Allah Swt tentang mengapa Allah Swt cepat sekali mengambil ibu saya, pada akhirnya luntur dengan sendirinya, ketika saya sadar bahwa saya harus ikhlas. Harus ikhlas karena pada akhirnya semuanya akan berpisah. Siapapun. Saya jadi sadar, yang mungkin mengalami seperti ini bukan hanya saya saja, tapi banyak anak perempuan lain di luar sana yang mengalami seperti ini. Mungkin lebih sulit dari saya. Hanya itu pikiran saya kala itu.
Menerima bahwa saya adalah salah satu anak perempuan di dunia ini yang pernah ditinggal oleh ibu tercinta dalam keadaan super manja, dalam keadaan cenderung suka mengeluh, dan perasaan khawatir tidak dapat melalui hari-hari selanjutnya di hidup saya. Namun, nyatanya Allah Swt punya segala macam cara untuk membuka keikhlasan hati hamba-Nya. Sejak saat itu, saya mulai memahami mengapa kita tidak boleh berlebihan terhadap sesuatu, baik senang maupun sedih? Mengapa kita harus mengalami pertemuan dan perpisahan? Mengapa kita harus mengalami sakit dan sehat? Mengapa kita harus mengalami hidup dalam kesusahan dan hidup dalam kecukupan harta? Mengapa kita harus mengalami pengkhianatan dan kesetiaan? Dan semua hal yang berlawanan di dunia ini. Sebenarnya, karena Allah ingin kita berusaha agar selalu ikhlas tanpa syarat. Ikhlas menerima bahwa segala yang terlihat oleh mata kita, teraba oleh tangan kita, tercium oleh hidung kita, terdengar oleh telinga kita, pasti akan berpisah dengan kita pada akhirnya. Apapun cara-Nya kepada kita.
Begitu pula soal percintaan. Dalam hal ini, saya tidak ingin bercerita banyak, karena dalam soal ini, saya merasa hal ini di hidup saya masih tidak terlalu indah hehe sedih ya. Beberapa kali saya dekat (dalam arti pacaran) dengan seorang pria, pasti ada saja masa saya ditikung olehnya. Bahasanya apa ya yang enak? Hehe kalau dikhianati sepertinya terlalu melankolis. Ya, intinya ketika saya sedang pacaran dengan seseorang, tiba-tiba ada saja pria yang tipenya slonong-boy, ketemu yang baru, langsung cusss pergi. Begitulah hidup hehe... Namun, saya pernah ketika patah hati, saking kecewanya sampai lebay begitu sedihnya. Nah, selama mengalami masa lebay itu, saya berpikir, “Kenapa saya jadi begini? Kenapa mesti sedih juga? Saya bisa mandiri ketika Mama meninggal, kenapa saya nggak bisa mandiri ketika si X pergi dari hari-hari saya? Toh si X pas saya sedih mungkin dia lagi jalan-jalan sama si Y. Kok begini sih? Berarti ada yang nggak beres sama pemikiran saya.” Lagi-lagi, saya berusaha keras untuk menerima dengan ikhlas bahwa segala yang nyata di hidup saya pasti akan berakhir dengan perpisahan. Lagi-lagi, saya belajar kembali mendalami apa itu ikhlas tanpa syarat.
Hingga pada hari ini, ketika saya mengalami patah hati, pengaruh dari belajar dan belajar tentang ikhlas tanpa syarat itu sangat besar bagi saya pribadi. Contoh kecilnya, ketika saya patah hati. Ketika saya menyukai seseorang tapi bertepuk sebelah tangan. Ketika saya menyayangi seseorang, tapi orang itu menyayangi orang lain. Teman-teman tahu? Saya uring-uringannya hanya satu hari loh. Memang sih di satu hari itu segala pertanyaan berputar di kepala saya. Kenapa si X begini? Kok si X begitu? Dan sebagainya. Ya satu hari yang penuh pertanyaan dan keluhan. Namun, besoknya? Hati saya normal seperti sedia kala. Lagi-lagi, karena saya menuntut diri saya sendiri untuk ikhlas akan segala hal, baik buruk yang terjadi kepada saya hari ini dan hari esok. Lagi-lagi, karena saya menuntut diri saya untuk paham bahwa pada akhirnya semuanya akan berpisah.
Teman-teman, Allah Swt punya segala cara untuk membuat hamba-Nya menangis dan tertawa lagi. Menangis mengapa dulu tertawa, dan tertawa mengapa dulu menangis. Saya juga masih belum yakin apakah saya adalah orang yang ikhlas atau hanya sekedar menerima tanpa kelapangan hati. Hanya saja, saya selalu bertekad untuk mengingatkan diri saya sendiri akan kefanaan dunia. Mengingatkan diri saya sendiri bahwa semuanya pasti akan berpisah.
Lalu kenapa saya harus bersedih berlebihan? Lalu kenapa saya harus bergembira berlebihan? Kenapa saya harus berlebihan, jika ikhlas tanpa syarat itu jauh lebih baik pengaruhnya dalam hari-hari saya dibandingkan banjir air mata dan ramai gelak tawa?
Wassalam,
Dhinar A. Fitriany
Jakarta, 18 Agustus 2014
Selamat malam teman-teman yang sedang membaca blog saya. Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih karena baik sengaja maupun tidak sengaja, teman-teman telah meluangkan sedikit waktunya untuk membaca salah satu tulisan saya di blog ini.
Entah, malam ini, tiba-tiba saya terdorong ingin menulis tentang keikhlasan tanpa syarat. Mengingat kemarin malam, saya panjang lebar saling bercerita dengan salah seorang teman baik saya, bernama Rivaldi, atau biasa dipanggil dengan sebutan Bule (karena perawakannya indo-indo begitu). Ya, kami membahas soal keikhlasan.
Keikhlasan tanpa syarat. Sebenarnya, jika saya ditanya oleh orang, apakah saya termasuk orang yang ikhlas, saya juga bingung jawabnya. Kalau saya jawab, iya saya adalah orang yang ikhlas, bisa jadi orang tersebut malah tidak yakin dengan jawaban saya. Mungkin juga malah jadi berpikir, “Kok ikhlas ngomong-ngomong sih?”. Namun, jika saya jawab, “Saya nggak tahu, saya orang yang ikhlas atau bukan”. Bisa jadi orang tersebut malah menertawai saya karena jawaban saya. Mungkin juga timbul pikiran, “Ya masa memahami dirinya sendiri nggak bisa, bagaimana memahami orang lain?”. Mengapa dengan kedua jawaban yang berlawanan seperti itu, jawaban tentang ikhlas akan selalu terasa tidak sesuai? Ya, itulah manusia. Kita berbuat baik atau berbuat tidak baik, ada saja yang terlihat salah dari mata orang lain. Begitu pula ketika kita menerapkan keikhlasan tanpa syarat di hidup kita.
Saya bukan seorang motivator yang bisa menerangkan secara jelas apa itu ikhlas. Saya juga bukan ahli agama yang lebih paham tentang ilmu ikhlas. Hanya saja, hingga saat ini saya selalu mencoba berusaha mendalami apa sebenarnya makna dari kata ikhlas di luar makna leksikalnya. Saya tidak ingin menjelaskan apa itu ikhlas, karena saya sendiri pun masih berusaha mendalami hal tersebut. Di sini, saya hanya ingin berbagi sedikit pengalaman dan bagaimana saya menyikapi pengalaman tersebut.
Untuk lebih mudahnya, saya mengambil hal-hal umum yang seringkali kita temui di kehidupan nyata. Persoalan kematian orang tercinta dan berpisah dengan seseorang yang kita sayangi. Tepatnya, kematian dan percintaan.
Usia saya saat ini 23 tahun. Ketika usia 16 tahun, tepatnya ketika saya masih duduk di bangku kelas XI IPA SMA, ibu saya meninggal dunia karena sakit jantung. Bisa teman-teman bayangkan? Ketika di usia itu, totally, saya tidak bisa apa-apa. Masih baik jika saya bisa masak air. Namun, nyatanya? Saya menyalakan kompor saja tidak bisa. Hingga pada usia itu, saya bisanya hanya bermain bersama teman, jalan-jalan dengan teman, pulang sekolah menanyakan makanan ke ibu saya, lalu melakukan aktivitas lain yang saya sukai. Aktivitas yang saya tidak sukai, apalagi beres-beres rumah, super jarang saya lakukan, kecuali di akhir pekan, itu juga hanya menyiram tanaman dan membersihakan tempurung kura-kura saya. Intinya, hingga usia 16 tahun, ketika ibu saya meninggal, status saya adalah anak termanja di dunia, mungkin.
Beberapa hari sepeninggal ibu saya, entah ada angin apa, di dalam kamar saya berpikir. “Ya Allah, kenapa sih ngambil Mama cepet banget. Aku nggak tahu bisa kuat atau nggak. Kenapa Allah ngambil Mama pas aku masih SMA begini? Kenapa nggak nanti pas aku udah mapan, udah gede, pas aku udah punya keluarga sendiri, pas aku udah benar-benar yakin bisa mandiri? Kalau sekarang aku nggak tahu bisa mandiri atau nggak. Kenapa Allah ngambil Mama di saat-saat aku butuh banget semangat dari Mama untuk aku ngadepin ujian akhir sekolah nanti? Di saat aku butuh saran ketika aku pilih jurusan di universitas nanti? Di saat anak lain kalau lagi suka sama temen cowok bisa curhat ke Mamanya, masa aku curhatnya ke Papa, kan sama Papa belum boleh pacaran, nanti ketahuan aku lagi suka sama orang terus malah jadi nggak bisa temenan deket sama cowok itu?. Ya, intinya berpikir ‘kenapa Allah Swt berkehendak memanggil ibu saya dalam waktu yang cepat, ketika saya berumur 16 tahun?’. Pikiran-pikiran yang cenderung mengarah ke keluhan kepada Allah Swt dan pertanyaan-pertanyaan batin, seperti ‘kenapa mesti saya yang harus mengalami ini lebih dulu dibandingkan teman-teman saya yang lain?’.
Selama dua bulan, saya kerap berpikir hal-hal tersebut, hingga pada akhirnya saya mendapat sebuah mimpi setelah saya shalat tahajud. Mimpi bertemu dengan ibu saya, namun ibu saya tidak bicara di mimpi itu, hanya tersenyum dan sesekali diam. Di mimpi itu, saya diajak ibu saya naik sebuah kereta yang ukurannya panjang sekali dan pemandangan di kiri-kanan kereta yang saya naiki sungguh-sungguh indah, tapi aneh menurut saya waktu di mimpi itu. Pepohonannya warna-warni, bentuk daunnya besar-besar dan bermotif, ada yang bulat, ada yang bercak-bercak kecil. Hawa di daerah itu sangat sejuk sekali, dan jalanannya seperti tertutup entah salju atau kapas, warnanya putih dan lembut, tapi saya tidak melihat ada cahaya matahari di sekeliling saya, hanya saja terang sekali. Rumah-rumah yang berdiri kokoh di perbukitan, bentuknya juga lucu-lucu, ada yang bentuk lonjong, kotak, segitiga, bulat. Aneh, tidak pernah saya lihat sebelumnya. Hingga pada ketika di mimpi itu, ibu saya menunjuk sebuah rumah berbentuk persegi dan ada bangunan segitiganya juga, berwarna putih dengan dikelilingi bunga-bunga, lalu saya bertanya, “Itu rumah Mama? Kok aneh bentuknya, Mah?”, ibu saya mengangguk dan tersenyum. Di mimpi itu, saya keluar kereta, dan berjalan ke arah rumah yang katanya ibu saya, itu ialah rumahnya. Saya disuruh tunggu di pelataran rumah, menunggu ibu saya yang menyapa seorang anak kecil dan seorang kakek yang tinggal di dekat rumah ibu saya itu. “Itu tetangga, Mama?”, dan ibu saya hanya mengangguk. Di mimpi itu, yang saya ingat semua orang-orang di sekitar saya memakai pakaian berwarna putih, persis pakaian ihram haji dan pakaian gamis panjang putih tapi tidak berkerudung. Hanya saya, yang saya sadari berbeda dari orang-orang di sekitar saya, pakaian yang saya kenakan, jeans dan kaos panjang. Entah, di mimpi itu saya juga hanya memerhatikan sekitar dan aktivitas yang ibu saya lakukan. Menyiram bunga, bersenda gurau dengan tetangganya, ya...saya ditinggal sendiri oleh ibu saya di mimpi itu. Sampai ketika saya diajak ibu saya ke sebuah ruangan besar berwarna putih dan lagi-lagi saya diisyaratkan untuk menunggu ibu saya saya. Di ruangan itu ada sebuah piano ukurannya mungkin seperti grand piano, warnanya lagi-lagi putih. Saya hanya celingak-celinguk. Anehnya, orang lain seperti tidak melihat saya, atau saya yang tidak terlihat, tidak tahu, namanya juga mimpi. Sekembalinya ibu saya, ternyata beliau didampingi oleh sesosok pria (wajahnya tidak terlihat jelas, tapi saya tahu ia sesosok pria). Pria itu berkacamata, berkulit putih susu, badannya tinggi besar (bongsor), dan ia menggandeng tangan ibu saya. Di bagian mimpi inilah, satu-satunya waktu ibu saya mengeluarkan suara kepada saya, yaitu “Ade tenang aja ya. Mama di sini baik-baik aja. Ade harus mandiri dan sabar. Nanti, dia (maksudnya si pria di mimpi ini) yang akan nemenin Ade. Ade jangan sedih, dia anak baik pasti sayang sama Ade.” Dan, bagian mimpi selanjutnya, saya bermain piano bersama pria itu. Tiba-tiba ruangan itu jadi sangat terang, dan orang-orang yang berpakaian putih di sekitar saya juga hilang, termasuk ibu saya, habis itu saya terbangun. Begitulah mimpi. Sampai sekarang saya masih suka berpikir maksud dari mimpi itu. Walaupun mimpi adalah bunga tidur, tapi Allah Swt punya sekian banyak cara dan perantara untuk hamba-Nya berpikir, bukan? Jadi, kadang saya masih penasaran makna dari mimpi itu, hingga saat ini. Sangat jelas tiap-tiap gambaran di mimpi itu.
Sejak saya mengalami mimpi itu, entahlah ada angin apa, saya jadi sangat semangat untuk belajar menjadi seorang anak perempuan yang mau tahu urusan rumah. Belajar memasak, mencuci baju, menyapu, mengepel, dan sedikit demi sedikit mengubah penampilan saya lebih feminin dibandingkan sebelumnya, sekalipun kadang saya masih keluar grasak-grusuknya. Tanpa saya sangka sendiri, saya berani menyalakan kompor, saya bisa masak mie sendiri, bisa masak air sendiri, akhirnya bisa masak nasi sendiri, dan saya mau kotor-kotoran membersihkan rumah. Tadinya mah boro-boro... hehe... mencuci piring aja kalau tidak dipelototin dulu juga tidak gerak. Akhirnya pun, saya bisa menyetrika baju sendiri dengan lipatan yang rapi dan halus. Tadinya? Jangan ditanya deh hehe.. Ampuuun.. :) Kesemua hal itu saya dapat lakukan tanpa diajari oleh orang yang lebih dewasa atau lebih berpengalaman. Setelah kejadian mimpi itu, saya berpikir, saya berniat, saya hanya harus bisa menjaga ayah saya dengan baik sepeninggal ibu saya, bagaimana pun caranya. Hanya itu. Di sisi lain, dalam hati saya, keluhan-keluhan saya ke Allah Swt tentang mengapa Allah Swt cepat sekali mengambil ibu saya, pada akhirnya luntur dengan sendirinya, ketika saya sadar bahwa saya harus ikhlas. Harus ikhlas karena pada akhirnya semuanya akan berpisah. Siapapun. Saya jadi sadar, yang mungkin mengalami seperti ini bukan hanya saya saja, tapi banyak anak perempuan lain di luar sana yang mengalami seperti ini. Mungkin lebih sulit dari saya. Hanya itu pikiran saya kala itu.
Menerima bahwa saya adalah salah satu anak perempuan di dunia ini yang pernah ditinggal oleh ibu tercinta dalam keadaan super manja, dalam keadaan cenderung suka mengeluh, dan perasaan khawatir tidak dapat melalui hari-hari selanjutnya di hidup saya. Namun, nyatanya Allah Swt punya segala macam cara untuk membuka keikhlasan hati hamba-Nya. Sejak saat itu, saya mulai memahami mengapa kita tidak boleh berlebihan terhadap sesuatu, baik senang maupun sedih? Mengapa kita harus mengalami pertemuan dan perpisahan? Mengapa kita harus mengalami sakit dan sehat? Mengapa kita harus mengalami hidup dalam kesusahan dan hidup dalam kecukupan harta? Mengapa kita harus mengalami pengkhianatan dan kesetiaan? Dan semua hal yang berlawanan di dunia ini. Sebenarnya, karena Allah ingin kita berusaha agar selalu ikhlas tanpa syarat. Ikhlas menerima bahwa segala yang terlihat oleh mata kita, teraba oleh tangan kita, tercium oleh hidung kita, terdengar oleh telinga kita, pasti akan berpisah dengan kita pada akhirnya. Apapun cara-Nya kepada kita.
Begitu pula soal percintaan. Dalam hal ini, saya tidak ingin bercerita banyak, karena dalam soal ini, saya merasa hal ini di hidup saya masih tidak terlalu indah hehe sedih ya. Beberapa kali saya dekat (dalam arti pacaran) dengan seorang pria, pasti ada saja masa saya ditikung olehnya. Bahasanya apa ya yang enak? Hehe kalau dikhianati sepertinya terlalu melankolis. Ya, intinya ketika saya sedang pacaran dengan seseorang, tiba-tiba ada saja pria yang tipenya slonong-boy, ketemu yang baru, langsung cusss pergi. Begitulah hidup hehe... Namun, saya pernah ketika patah hati, saking kecewanya sampai lebay begitu sedihnya. Nah, selama mengalami masa lebay itu, saya berpikir, “Kenapa saya jadi begini? Kenapa mesti sedih juga? Saya bisa mandiri ketika Mama meninggal, kenapa saya nggak bisa mandiri ketika si X pergi dari hari-hari saya? Toh si X pas saya sedih mungkin dia lagi jalan-jalan sama si Y. Kok begini sih? Berarti ada yang nggak beres sama pemikiran saya.” Lagi-lagi, saya berusaha keras untuk menerima dengan ikhlas bahwa segala yang nyata di hidup saya pasti akan berakhir dengan perpisahan. Lagi-lagi, saya belajar kembali mendalami apa itu ikhlas tanpa syarat.
Hingga pada hari ini, ketika saya mengalami patah hati, pengaruh dari belajar dan belajar tentang ikhlas tanpa syarat itu sangat besar bagi saya pribadi. Contoh kecilnya, ketika saya patah hati. Ketika saya menyukai seseorang tapi bertepuk sebelah tangan. Ketika saya menyayangi seseorang, tapi orang itu menyayangi orang lain. Teman-teman tahu? Saya uring-uringannya hanya satu hari loh. Memang sih di satu hari itu segala pertanyaan berputar di kepala saya. Kenapa si X begini? Kok si X begitu? Dan sebagainya. Ya satu hari yang penuh pertanyaan dan keluhan. Namun, besoknya? Hati saya normal seperti sedia kala. Lagi-lagi, karena saya menuntut diri saya sendiri untuk ikhlas akan segala hal, baik buruk yang terjadi kepada saya hari ini dan hari esok. Lagi-lagi, karena saya menuntut diri saya untuk paham bahwa pada akhirnya semuanya akan berpisah.
Teman-teman, Allah Swt punya segala cara untuk membuat hamba-Nya menangis dan tertawa lagi. Menangis mengapa dulu tertawa, dan tertawa mengapa dulu menangis. Saya juga masih belum yakin apakah saya adalah orang yang ikhlas atau hanya sekedar menerima tanpa kelapangan hati. Hanya saja, saya selalu bertekad untuk mengingatkan diri saya sendiri akan kefanaan dunia. Mengingatkan diri saya sendiri bahwa semuanya pasti akan berpisah.
Lalu kenapa saya harus bersedih berlebihan? Lalu kenapa saya harus bergembira berlebihan? Kenapa saya harus berlebihan, jika ikhlas tanpa syarat itu jauh lebih baik pengaruhnya dalam hari-hari saya dibandingkan banjir air mata dan ramai gelak tawa?
Wassalam,
Dhinar A. Fitriany
Jakarta, 18 Agustus 2014
Langganan:
Postingan (Atom)




