Handi's Blogger
Minggu, 07 Desember 2014
MUSIM KEMARAU VS MUSIM HUJAN
Saat itu cuaca di kotaku sangat cerah.Tetapi, meskipun cerah ada
ganjalan di hatiku, dan ada pertanyaan : Kenapa tidak turun hujan aja
sih? Berikut dengan serentetan keluhan, yang kenapa kok sepertinya
mengacu kepada pemenuhan diriku saja ?
Bajuku pasti akan memiliki bau yang tidak sedap, begitupun mukaku akan kusam karena udara yang sumpek ini. Bagaimana nanti aku mau bertemu dengan handai taulan? Malulah aku… Sekejap muncul ide dan upaya untuk berusaha menjauhkan badan dan bajuku dari bau tidak sedap. Pakai parfum, pakai mobil agar tidak keringatan, minta pendapat orang lain mengenai penampilan & "konfirmasi" bau tidak sedap di tubuhku, dll, yang semuanya pokoknya mengacu kepada saya… saya….dan saya…..
Belum lagi karena udara cerah ini, pastilah akan sering dahaga tenggorokanku.
Persiapan membawa air putih agar jika di jalan nanti saya ngelak, begitu kata Orang Jawa bilang, kiranya boleh juga ya, tapi kok air putih ?
Hhmm… rasanya kok belum afdol ya kalau tidak yang dingin2 plus soda karbonasi ? Pastilah lebih sedap ketimbang hanya sebotol air putih, yang sudah sangat mudah ditemui dan rasanya biasa - biasa saja. Saya mau yang beda dan lebih menyegarkan.
Kan kalau yang berkarbornasi bisa nambah gaul juga ?
Kira - kira seperti itulah bekalku ketika kakiku akan meninggalkan rumahku…
Setelah di jalan, hhmm.. karena udara yang sangat panas ini, yang biasa AC kendaraan ini dingin, sekonyong - konyong menjadi tidak berasa dinginnya.
Masih dingin, tetapi kualitasnya jauh berkurang. Aku bergumam, " kenapa pula ini ? Gara - gara udara pastinya, sekarang ACku menjadi seperti ini". Sungguh tidak bersahabat cuaca hari ini !!
Mengeluh sepanjang hari.
Dan karena itulah, maka : Lupa untuk menyapa tetangga depan, kiri dan kanan yang padahal selalu menyapu halamannya setiap pagi, yang juga sebenarnya menunggu teguran dan sapaan.
Lupa akan begitu indahnya senyuman sang istri dan buah hati yang disertai lambaian tangan dan seruan "Hati - Hati ya di jalan… "
Lupa juga kalau hidangan sedap yang telah aku santap di meja makan adalah hasil karya racikan bumbu - bumbu istriku.
Yaaa, lupa untuk menikmati segala KEINDAHAN di pagi hari itu.
Seiring berjalannya waktu…
Musim hujanpun tiba.
Gemuruh petir disertai kilat menyambar - nyambar.
Sang mentari kian tersipu malu terhalang awan hitam cumulonimbus.
Nyanyian burung pagi, terhalau oleh derasnya hujan yang jatuh di seng rumahku.
Pakaian yang siap untuk disetrika semakin hari semakin sedikit antriannya, tetapi justru menumpuk di jemuranku.
Menyertai ini semua, udara dinginpun menyelimuti tubuhku.
Menggigil sehabis mandi pagi, itulah yang aku rasakan.
Teh hangat manis semenjak musim yang baru datang ini, semakin cocok kiranya dihidangkan setiap pagi.
Semua ini menyusul kekuatiran akan bagaimana nanti di jalan ? apalagi 2 - 3 hari hujan tidak kunjung selesai.
Pastilah macet dimana - mana, stress melanda banyak orang, belum lagi kecemasan kalau - kalau kendaraan trouble di tengah jalan.
Sambil di jalan, otomatis teringat akan jemuranku yang pun belum kering juga.
Serba salah… ya serba salah…..
Mengeluh… ya mengeluh…..
Cerah salah… Hujanpun salah…
Lalu ?????
Apakah memang ini yang telah bersenyawa di banyak orang, terlebih sang penghuni metropolitan?
Sungguhlah berbahagia wahai mereka yang mampu bersyukur di tengah cuaca cerah maupun hujan ?
Yang mampu menikmati betapa indahnya segala yang ada yang telah disajikan olehNya
Sinar matahari yang menusuk,sangatlah baik bagi pertumbuhan tulang, apalagi si bayi yang sedang butuh - butuhnya asupan Vitamin D.
Udara panas yang senantiasa mengeringkan jemuran setiap hari, sehingga bisa ganti baju setiap hari bahkan 2 - 3 kali sehari.
Terik matahari yang terserap oleh klorofil - klorofil untuk wahai para tanaman untuk dapat bertumbuh dan beregenerasi.
Cuaca yang cerah yang mengantarkan wahai anak - anak untuk dapat bermain layangan sembari berteriak dan cemberut karena perkara menang dan kalah dalam beradu.
Dan…beragam aktivitas lain yang tentunya SUNGGUH MENYENANGKAN.
Memang sudah aturan alam, jika :
Ada panas, ada dingin.
Ada tinggi, ada pendek.
Ada baik, ada jahat
Ada hitam, ada putih
Ada terang, ada gelap.
Dst...
Maka begitulah hujanpun mengguyur setelah terik Sang Mentari beranjangsana setiap pagi, siang, sore di bulan - bulan musim kemarau.
Dingin menyambut, kabutpun hadir di sela - sela rintik - rintik hujan pagi hari.
Sang Jago agak malu meneriakkan yel - yel "kokopetok"nya, tetapi tetaplah ia konsisten membangunkan setiap orang untuk mau bangun pagi.
Di kala tidur malam, AC tidak perlu dinyalakan karena sejuknya udara.
Bahkan di kala banjirpun,
Setiap orang yang sebelumnya saling tidak tegur sapa dan begitu kental "sayaisme"nya, saat inilah setiap orang saling peduli, saling Bantu, gotong royong, bertoleransi, berperasaan sejajar dengan yang lain, dst…
Di setiap waktu dan tempat adalah suatu KEINDAHAN
Jika mampu BERSYUKUR atas segala yang telah diberikanNya
Dan senantiasa berpikir POSITIF atas apa yang terjadi, baik yang dalam kendali ataupun di luar kendali.
Kemarau ataupun Hujan ???
Semua SAMA.
Tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk.
Semua adalah semata - mata berdasar atas sikap dan cara pandang kita sebagai INSAN
Masih MAU BERUBAH dan BERSYUKURKAH kita ?
Bajuku pasti akan memiliki bau yang tidak sedap, begitupun mukaku akan kusam karena udara yang sumpek ini. Bagaimana nanti aku mau bertemu dengan handai taulan? Malulah aku… Sekejap muncul ide dan upaya untuk berusaha menjauhkan badan dan bajuku dari bau tidak sedap. Pakai parfum, pakai mobil agar tidak keringatan, minta pendapat orang lain mengenai penampilan & "konfirmasi" bau tidak sedap di tubuhku, dll, yang semuanya pokoknya mengacu kepada saya… saya….dan saya…..
Belum lagi karena udara cerah ini, pastilah akan sering dahaga tenggorokanku.
Persiapan membawa air putih agar jika di jalan nanti saya ngelak, begitu kata Orang Jawa bilang, kiranya boleh juga ya, tapi kok air putih ?
Hhmm… rasanya kok belum afdol ya kalau tidak yang dingin2 plus soda karbonasi ? Pastilah lebih sedap ketimbang hanya sebotol air putih, yang sudah sangat mudah ditemui dan rasanya biasa - biasa saja. Saya mau yang beda dan lebih menyegarkan.
Kan kalau yang berkarbornasi bisa nambah gaul juga ?
Kira - kira seperti itulah bekalku ketika kakiku akan meninggalkan rumahku…
Setelah di jalan, hhmm.. karena udara yang sangat panas ini, yang biasa AC kendaraan ini dingin, sekonyong - konyong menjadi tidak berasa dinginnya.
Masih dingin, tetapi kualitasnya jauh berkurang. Aku bergumam, " kenapa pula ini ? Gara - gara udara pastinya, sekarang ACku menjadi seperti ini". Sungguh tidak bersahabat cuaca hari ini !!
Mengeluh sepanjang hari.
Dan karena itulah, maka : Lupa untuk menyapa tetangga depan, kiri dan kanan yang padahal selalu menyapu halamannya setiap pagi, yang juga sebenarnya menunggu teguran dan sapaan.
Lupa akan begitu indahnya senyuman sang istri dan buah hati yang disertai lambaian tangan dan seruan "Hati - Hati ya di jalan… "
Lupa juga kalau hidangan sedap yang telah aku santap di meja makan adalah hasil karya racikan bumbu - bumbu istriku.
Yaaa, lupa untuk menikmati segala KEINDAHAN di pagi hari itu.
Seiring berjalannya waktu…
Musim hujanpun tiba.
Gemuruh petir disertai kilat menyambar - nyambar.
Sang mentari kian tersipu malu terhalang awan hitam cumulonimbus.
Nyanyian burung pagi, terhalau oleh derasnya hujan yang jatuh di seng rumahku.
Pakaian yang siap untuk disetrika semakin hari semakin sedikit antriannya, tetapi justru menumpuk di jemuranku.
Menyertai ini semua, udara dinginpun menyelimuti tubuhku.
Menggigil sehabis mandi pagi, itulah yang aku rasakan.
Teh hangat manis semenjak musim yang baru datang ini, semakin cocok kiranya dihidangkan setiap pagi.
Semua ini menyusul kekuatiran akan bagaimana nanti di jalan ? apalagi 2 - 3 hari hujan tidak kunjung selesai.
Pastilah macet dimana - mana, stress melanda banyak orang, belum lagi kecemasan kalau - kalau kendaraan trouble di tengah jalan.
Sambil di jalan, otomatis teringat akan jemuranku yang pun belum kering juga.
Serba salah… ya serba salah…..
Mengeluh… ya mengeluh…..
Cerah salah… Hujanpun salah…
Lalu ?????
Apakah memang ini yang telah bersenyawa di banyak orang, terlebih sang penghuni metropolitan?
Sungguhlah berbahagia wahai mereka yang mampu bersyukur di tengah cuaca cerah maupun hujan ?
Yang mampu menikmati betapa indahnya segala yang ada yang telah disajikan olehNya
Sinar matahari yang menusuk,sangatlah baik bagi pertumbuhan tulang, apalagi si bayi yang sedang butuh - butuhnya asupan Vitamin D.
Udara panas yang senantiasa mengeringkan jemuran setiap hari, sehingga bisa ganti baju setiap hari bahkan 2 - 3 kali sehari.
Terik matahari yang terserap oleh klorofil - klorofil untuk wahai para tanaman untuk dapat bertumbuh dan beregenerasi.
Cuaca yang cerah yang mengantarkan wahai anak - anak untuk dapat bermain layangan sembari berteriak dan cemberut karena perkara menang dan kalah dalam beradu.
Dan…beragam aktivitas lain yang tentunya SUNGGUH MENYENANGKAN.
Memang sudah aturan alam, jika :
Ada panas, ada dingin.
Ada tinggi, ada pendek.
Ada baik, ada jahat
Ada hitam, ada putih
Ada terang, ada gelap.
Dst...
Maka begitulah hujanpun mengguyur setelah terik Sang Mentari beranjangsana setiap pagi, siang, sore di bulan - bulan musim kemarau.
Dingin menyambut, kabutpun hadir di sela - sela rintik - rintik hujan pagi hari.
Sang Jago agak malu meneriakkan yel - yel "kokopetok"nya, tetapi tetaplah ia konsisten membangunkan setiap orang untuk mau bangun pagi.
Di kala tidur malam, AC tidak perlu dinyalakan karena sejuknya udara.
Bahkan di kala banjirpun,
Setiap orang yang sebelumnya saling tidak tegur sapa dan begitu kental "sayaisme"nya, saat inilah setiap orang saling peduli, saling Bantu, gotong royong, bertoleransi, berperasaan sejajar dengan yang lain, dst…
Di setiap waktu dan tempat adalah suatu KEINDAHAN
Jika mampu BERSYUKUR atas segala yang telah diberikanNya
Dan senantiasa berpikir POSITIF atas apa yang terjadi, baik yang dalam kendali ataupun di luar kendali.
Kemarau ataupun Hujan ???
Semua SAMA.
Tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk.
Semua adalah semata - mata berdasar atas sikap dan cara pandang kita sebagai INSAN
Masih MAU BERUBAH dan BERSYUKURKAH kita ?
Minggu, 09 November 2014
Cedas dan bijak berkata kata
Terkadang kita
sering melihat teman facebook atau twitter kita membuat status berisi
umpatan dan makian menggunakan kata-kata yang kotor dan kurang pantas,
bahkan terkadang nama orang yang dia umpat pun dimasukan ke dalam
statusnya. Tahukah kalian kalau hal seperti itu sama saja menjelekan
serta mencemarkan diri kita sendiri dan tentu saja bisa berakibat tidak
hanya di dunia maya tapi juga di dunia nyata, beberapa penelitian
membuktikan bahwa saat ini jika kita ingin melamar pekerjaan di suatu
perusahaan tidak hanya dinilai kepribadiannya secara langsung dengan
bertatap muka dan juga psikotes tetapi dilihat bagaimana karakter kita
di dunia maya apalagi di jejaring sosial. Bukan itu saja, bisa saja bila
orang yang kita jelek-jelekan itu tidak terima dengan kata-kata yang
kita lontarkan di jejaring sosial dan melaporkan kita ke pihak yang
berwajib sebagai sebuah tindakan pencemaran nama baik, kita bisa
merasakan dinginnya hotel prodeo hanya karena tidak bisa mengendalikan
kata-kata kita tersebut.
Pentingnya
melatih kecerdasan emosional (EQ) kita agar kita mampu menjaga sikap dan
tak mudah menuliskan kata-kata yang menghina orang lain di jejaring
sosial, karena sesuai dengan fungsinya jejaring sosial itu dibuat untuk
menghubungkan kita dengan teman-teman kita untuk saling tukar informasi,
kabar, dan hal positif lainnya bukan untuk menjelek-jelekan pihak lain.
Memang tiap orang itu berbeda-beda karakternya tapi tak ada salahnya
kita untuk saling mengingatkan bukan? ada orang yang kadang diingatkan
tetapi malah marah-marah dan memaki balik ke kita, tapi ada juga yang
menerima masukan kita yang memang tujuannya agar dia jadi pribadi yang
lebih baik lagi.
Jangan pernah
menganggap jejaring sosial dan dunia maya adalah diary pribadi kita yang
bisa kita isi seenaknya, karena hal-hal yang kita tulis orang lain juga
akan tahu, apalagi membahas hal-hal yang sifatnya pribadi. Sebaiknya
kita bisa memilah-milah mana hal yang bisa kita share di jejaring sosial
dan mana hal yang benar-benar hanya kita yang boleh tahu, karena
hal-hal pribadi tersebut akan menyangkut citra diri kita di mata orang
lain. Cerdas dan bijaklah menggunakan jejaring sosial mulai dari
sekarang, karena dunia maya bukan milik kita seorang, jangan biarkan
orang lain jadi unrespect terhadap kita gara-gara melihat kata-kata
negatif kita di dunia maya walaupun kenyataan sebenarnya kita tak
seperti itu.
JOURNEY TO TRANS STUDIO BANDUNG
Saya akan melanjutkan cerita tentang perjalan ke Trans Studio, yang sebelumnya saya tulis disini.
Setelah saya sampai disana kira-kira pukul 13.00 wib, kami (saya dan
teman-teman saya) langsung berkeliling menyusuri setiap sudut Trans
Studio bandung sambil berdiskusi wahana apa yang akan kami masuki
terlebih dahulu. Setelah melewati pedebatan panjang, mengalahkan
debatnya para wakil rakyat di DPR sana *alah* kami akhirnya memutuskan
untuk memasuki wahana dunia lain terlebih dahulu. Para wanita (rika dan
dian) sudah ketakutan duluan sebelum masuk kedalam wahana, saya
sebenarnya agak takut juga tapi tetap pasang muka kalem. Sebelum kita
bisa menaiki wahana tersebut terlebih dahulu kita akan melewati
lorong-lorong yang gelap dan sunyi serta melewati beberapa
lukisan-lukisan serta kita akan menaiki tangga yang berjalan dengan
sendirinya (baca=eskalator), akhirnya kami sampai juga di tempat kita
menaiki wahana tersebut, bentuknya seperti kereta yang maksimal di
duduki 4 orang. Gawat pikir saya, karena kami berenam terpaksa saya dan
teman saya (nuzul) harus menaiki kereta yang terpisah dengan empat teman
saya yang lain untungnya ada 2 orang bule yang duduk di belakang kami
jadi kami tidak cuma berdua. Saat didalam sana hampir sama bentuknya
seperti rumah hantu yang ada di taman safari cisarua tapi disini lebih
banyak memakai gambar-gambar proyeksi, ada pocong, genderuwo suster
ngesot, dan ada bagian yang bikin saya parno *awas jangan salah baca*
(was-was) yaitu saat kereta sudah mau sampai ke tempat saya naik tadi,
ada replika mobil ambulance yang sudah usang dan tiba-tiba saja ada
keranda mayat yang keluar dari dalam mobil tersebut dan jatuh ke bawah,
sontak saja saya kaget mendengar bunyinya. Tetapi ternyata bagian paling
menakutkannya ada di bagian akhir saat saya berfikir kalau wahana itu
sudah mau selesai tiba-tiba saja sreeetttt!!! ada sebuah bayangan yang
langsung berdiri di samping saya sangat dekat jaraknya sampai-sampai
saya teriak dibuatnya, pas saya tengok ke belakang ternyata itu salah
satu crew dari dunia lain yang menyamar jadi sosok kuntilanak, untung
saya tak jantungan dibuatnya.
Setelah
keluar dari wahana dunia lain kami berjalan ke kawasan lost city dan
menaiki wahana skypirates zapelin yaitu sebuah gondola berbentuk pesawat
zapelin bajak laut yang muat untuk 8 orang, wahana ini mengelilingi
kawasan Trans studio dari ketinggian sehingga kita bisa menikmati
pemandangan Trans studi sekaligus bisa melihat wahana yang lainnya.
Sekeluarnya kami dari wahana skypirates zapelin, saya dan cesar langsung
menuju ke wahana kong climb yaitu wahana dimana kita akan melakukan
olahraga panjat tebing, kita akan memanjat tebing buatan setinggi kurang
lebih 8 meter dan diharuskan memegang sebuah lampu warna merah di ujung
atas tebing tersebut. Tak perlu khawatir karena kita akan dipakaikan
alat pengaman terlebih dahulu sebelum memanjat tebing buatan tersebut,
walau saya lebih gendut dari cesar tapi saya berhasil memanjat sampai
ke ujung tebing tersebut dan memegang lampu berwarna merah tersebut, si
cesar hanya mampu memanjat tebing itu sampai setengahnya saja (mungkin
faktor usia ha ha ha...), oh iya teman saya yang lainnya tidak ikut
memanjat hanya melihat kami dari kejauhan.
Sesi
memanjat selesai, kami pun menuju wahana berikutnya yaitu dragon
riders, kata cesar (lagi-lagi dia) wahana ini pasti untuk anak kecil,
memang jika kita lihat dari jauh wahana ini hanya bergerak memutar
sambil naik turun seperti jungkat-jungkit. Ternyata salah, walaupun
terlihat hanya seperti jungkat-jungkit kenyataannya ketika kami naik
wahana tersebut andrenalin kami bertambah karena gerakan naik turunnya
itu sangat kencang dan membuat kami berteriak antara kegirangan
bercampur takut, alhasil muka saya dan nuzul sangat absurd bentuknya
saat difoto oleh crew Trans Studio. Selesai dari wahana dragon riders
kami langsung lanjut masuk ke wahana negeri raksasa, kalo wahana yang
satu ini hampir sama dengan hysteria yang ada di dufan tapi ini lebih
pendek dan lebih banyak naik turunnya , ya sekitar 7-8 kali kita akan
dibawa naik dan turun serta tentu saja teriakan-teriakan kami yang tak
terbendung lagi, apalagi dian dan cesar yang sudah gugup sedari awal
kita mengantri tadi.

Kami
beristirahat sebentar untuk memulihkan semangat kami dalam berkeliling
dan mencoba semua wahana yang ada, tentunya yang diperuntukan bagi
seusia kami. Karena terdapat beberapa wahana yang hanya bisa dimasuki
oleh anak-anak yaitu pulau liliput dan captain blackheart pirate ship.
Kami pun melanjutkan dengan memasuki wahana transcar racing yaitu sebuah
wahana mobil balap yang akan melintasi sirkuit yang ada, tapi yang
mengasikan dari wahana ini ialah kita bisa menggas dan mengerem mobil
tersebut serta dapat memutar setir juga roda mobil tersebut seperti
mobil betulan, tentu saja mobil tetap melaju dijalurnya.
Tulisan ini baru 2/3 dari pengalaman saya saat berkunjung ke Trans Studio Bandung, jangan lupa untuk membaca artikel saya Journey to Trans Studio (part 3) sekaligus bagian akhir dari kunjungan saya kesana. Jangan sampai ketinggalan ceritanya dan jangan lupa untuk memfollow blog ini. Terima Kasih :)
Setelah
keluar dari wahana dunia lain kami berjalan ke kawasan lost city dan
menaiki wahana skypirates zapelin yaitu sebuah gondola berbentuk pesawat
zapelin bajak laut yang muat untuk 8 orang, wahana ini mengelilingi
kawasan Trans studio dari ketinggian sehingga kita bisa menikmati
pemandangan Trans studi sekaligus bisa melihat wahana yang lainnya.
Sekeluarnya kami dari wahana skypirates zapelin, saya dan cesar langsung
menuju ke wahana kong climb yaitu wahana dimana kita akan melakukan
olahraga panjat tebing, kita akan memanjat tebing buatan setinggi kurang
lebih 8 meter dan diharuskan memegang sebuah lampu warna merah di ujung
atas tebing tersebut. Tak perlu khawatir karena kita akan dipakaikan
alat pengaman terlebih dahulu sebelum memanjat tebing buatan tersebut,
walau saya lebih gendut dari cesar tapi saya berhasil memanjat sampai
ke ujung tebing tersebut dan memegang lampu berwarna merah tersebut, si
cesar hanya mampu memanjat tebing itu sampai setengahnya saja (mungkin
faktor usia ha ha ha...), oh iya teman saya yang lainnya tidak ikut
memanjat hanya melihat kami dari kejauhan.
Sesi
memanjat selesai, kami pun menuju wahana berikutnya yaitu dragon
riders, kata cesar (lagi-lagi dia) wahana ini pasti untuk anak kecil,
memang jika kita lihat dari jauh wahana ini hanya bergerak memutar
sambil naik turun seperti jungkat-jungkit. Ternyata salah, walaupun
terlihat hanya seperti jungkat-jungkit kenyataannya ketika kami naik
wahana tersebut andrenalin kami bertambah karena gerakan naik turunnya
itu sangat kencang dan membuat kami berteriak antara kegirangan
bercampur takut, alhasil muka saya dan nuzul sangat absurd bentuknya
saat difoto oleh crew Trans Studio. Selesai dari wahana dragon riders
kami langsung lanjut masuk ke wahana negeri raksasa, kalo wahana yang
satu ini hampir sama dengan hysteria yang ada di dufan tapi ini lebih
pendek dan lebih banyak naik turunnya , ya sekitar 7-8 kali kita akan
dibawa naik dan turun serta tentu saja teriakan-teriakan kami yang tak
terbendung lagi, apalagi dian dan cesar yang sudah gugup sedari awal
kita mengantri tadi.
Kami
beristirahat sebentar untuk memulihkan semangat kami dalam berkeliling
dan mencoba semua wahana yang ada, tentunya yang diperuntukan bagi
seusia kami. Karena terdapat beberapa wahana yang hanya bisa dimasuki
oleh anak-anak yaitu pulau liliput dan captain blackheart pirate ship.
Kami pun melanjutkan dengan memasuki wahana transcar racing yaitu sebuah
wahana mobil balap yang akan melintasi sirkuit yang ada, tapi yang
mengasikan dari wahana ini ialah kita bisa menggas dan mengerem mobil
tersebut serta dapat memutar setir juga roda mobil tersebut seperti
mobil betulan, tentu saja mobil tetap melaju dijalurnya.Tulisan ini baru 2/3 dari pengalaman saya saat berkunjung ke Trans Studio Bandung, jangan lupa untuk membaca artikel saya Journey to Trans Studio (part 3) sekaligus bagian akhir dari kunjungan saya kesana. Jangan sampai ketinggalan ceritanya dan jangan lupa untuk memfollow blog ini. Terima Kasih :)
JADI DIRI SENDIRI, SIAPA TAKUT
Setiap orang
pasti pernah merasa iri dengan kehidupan orang lain, entah orang lain
itu lebih cantik atau ganteng, lebih kaya, lebih bebas, lebih gaya dan
banyak hal lainnya yang terkadang kita irikan dari orang lain. Tapi
apakah kita tahu bahwa orang yang kita irikan itu sebenarnya juga iri
kepada kita, pada kesederhanaan sikap kita, kebebasan kita berekspresi,
kebebasan kita bergaya apa adanya. Kita semua pasti pernah mengalami hal
tersebut entah saya, anda, kalian atau bahkan mereka, kita merasa
keadaan tidak berpihak kepada kita dan lebih memihak kepada orang lain.
Sebenarnya
perasaan-perasaan yang timbul itu hanya perasaan negatif, perasaan kita
yang tidak pernah puas dengan keadaan yang kita jalani sekarang ini,
perasaan kita yang tak pernah bersyukur terhadap setiap rizeki dan
kebaikan yang kita dapatkan dari Allah setiap waktunya, perasaan kita
yang tak pernah merasa bahwa diri kita berharga dan berarti bagi orang
lain.
Jika kita bisa
melihat setiap kelebihan dan kekurangan yang kita miliki dari berbagai
sudut pandang bukan tidak mungkin kita bisa lebih hebat dari orang yang
kita irikan, rasa iri hanya dorongan dari setan yang membuat kita saling
membenci dengan sesama dan membuat kita kurang bersyukur kepada sang
pencipta. Kita diciptakan kedunia ini dengan keadaan yang paling
sempurna, walaupun secara fisik tak semua orang sempurna tapi kita
diciptakan dengan perasaan hati yang sempurna untuk bisa saling
mengasihi dan menyayangi.
Jadilah diri
sendiri, itu kuncinya. Jika kita bisa menjadi diri sendiri perasaan iri
itu tak akan bisa mempengaruhi kita, biarpun orang itu lebih cantik,
tampan, kaya, gaya dari kita sekalipun. Jadi diri sendiri membuat kita
menghargai setiap pemberian yang Allah berikan, fisik yang sempurna
sudah merupakan suatu keberkahan yang luar biasa, bila fisik kita tak
sempurna pun Allah masih memberi kita hati yang sempurna yang bisa
mengasihi dan menyayangi setiap orang disekitar kita. Bila kita
menghargai diri sendiri orang lain pun akan menghargai diri kita juga. Jadi diri sendiri, siapa takut.
SIKLUS KEHIDUPAN
Idul
Adha ke-19 saya di tahun ini bisa dibilang cukup berbeda, bukan ritual,
lingkungan, atau nuansanya tapi kelengkapannya. Ya kelengkapan, tahun
ini bahkan hingga tahun-tahun kedepan kelengkapan itu tak akan pernah
menjadi lengkap seutuhnya. Karena satu hari lalu nenek saya
menghembuskan nafas terakhirnya akibat usia yang tak lagi bisa
dikompromikan. Tahun berikutnya setelah ini semua rutinitas mungkin akan
berubah, tak ada yang menyambut kami lagi ketika tiba di kampung
halaman, tidak ada yang bisa kami ajak latihan berbicara bahasa jawa
lagi, mungkin rutinitas pulang kampung sendiri nantinya bukan menjadi
sebuah prioritas lagi. Yak semua berubah, satu hal yang tak berubah
adalah sebuah perubahan itu sendiri.
Sebuah
lagu "Tak ada yang abadi - Peterpan" mungkin bisa menggambarkan
perubahan itu semua. "Lahir - anak kecil - remaja - dewasa - tua - tutup
usia" sebuah siklus yang telah, sedang, akan dialami oleh setiap
manusia di dunia ini. Roda kehidupan akan terus berputar tanpa henti,
dengan alasan apapun, tinggal bagaimana kita mempersiapkan itu semua.
Kesadaran
diri harus datang seiring berjalannya waktu, kita akan semakin tumbuh
dewasa dan akan mengambil peran yang dahulu dilakukan oleh orang tua
kita. Mempersiapkan diri berarti juga mempersiapkan metal kita untuk
memikul semua tanggung jawab itu. Tak lagi mengandalkan orang membantu
hidup kita, namun nantinya kita yang akan menjadi andalan generasi
setalah kita. Siklus kehidupan ini akan terus berputar tanpa batas,
semakin lama kita akan menua kemudian akan meninggalkan dunia ini, hanya
yang siap dan yang menyadarinya yang dapat menghadapi perubahan ini.
Selamat tinggal nek, semoga engkau tenang di alam sana di sisi Allah
swt. amiinnn.
Selasa, 04 November 2014
SECANGKIR KETULUSAN
Ini kisah secangkir kopi
Tak banyak sesuatu hal yang
mengagumkan
Jika kau hanya memperhatikan
bentuknya
Layaknya, cangkir mungil, kuping
cangkir yang melengkung
Dengan putih gading yang membalut
dirinya
Dan warna hitam si kopi yang memenuhi
tubuhnya
Mengagumkan? Mungkin biasa saja
Si cangkir pun juga tidak ingin
menceritakan bentuknya
Kepada dia
Si cangkir berkisah…
Aku harap, dia pun tahu
Meski aku ternasib sebagai sebuah
cangkir mungil
Untaian kebahagiaan pernah terpenuhi
dalam diriku
Dari kopi yang tertuang hangat di
tubuh ini
Aku selalu mengetahui
Wanita itu memiliki ketulusan pada si
dia
Sederhana, kataku
Tapi sangat mengagumkan
Aku bisa merasakan keihklasan dalam
cinta yang disampaikannya
Lewat diriku dan si hitam kopi
Bertahun wanita itu menyeduhkan kopi
untuk si dia
Lewat tubuhku
Sesungguhnya, jika aku bisa berucap
Ingin kukatakan pada si dia
“Tak pantas jika kau menaruh luka untuk wanita ini. Aku yakin, dia yang
terkasih untukmu. Jagalah hati tulusnya.”
Sayang, aku tak bisa
Tak pernah bisa
Ternasib sebagai secangkir kopi
Ingin rasanya aku berteriak
Saat si dia menerbangkanku dan segala
isi si hitam kopi
Dengan ucapannya
Membuang dengan sia-sia
Apa yang kusebut ketulusan seorang
wanita
Ternasib sebagai secangkir kopi
Ingin aku menemani wanita itu
Menaruh semua kesedihannya dalam
tubuhku
Menaruh semua buliran air matanya
dalam tubuhku
Tapi aku hanya ternasib sebagai
secangkir kopi
Hanya bisa menatap tangis mendalam
Lewat kedua mata wanita itu
Hanya bisa menemani dalam diamku tak
bergerak
Mendengar batinnya berkecamuk
Sayang, aku ternasib sebagai
secangkir kopi
Tak bergerak.
Dalam pagi, siang, dan senjanya
Dan malamnya di kala wanita itu
merindu
Satu yang ingin aku paling kisahkan
pada dia
Aku memang ternasib sebagai secangkir
kopi
Namun, aku bahagia terus menemani
wanita itu
Yang tulus meski kutau
Hatinya telah teronggok pilu
Inilah kisahku yang ternasib sebagai
secangkir kopi
Untuknya, si hati malaikat
Langganan:
Postingan (Atom)



